Pertemuan anggota OPEC di Wina, Austria.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC pada bulan depan merupakan peringatan keras bagi Arab Saudi sebagai pendiri organisasi negara produsen pengekspor minyak itu.
Keputusan UEA sejalan dengan keinginan Presiden AS Donald Trump yang menganggap organisasi itu telah secara sepihak menaikkan harga minyak karena menahan produksi.
Dilaporkan Middle East Eye, secara kasat mata, keluarnya UEA dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) merupakan puncak dari perselisihan panjangnya dengan Arab Saudi mengenai berapa banyak minyak yang boleh dipompa oleh negara-negara anggota.
Hingga baru-baru ini, Riyadh ingin membatasi pasokan untuk mendukung harga. Sementara UEA lebih menyukai produksi yang lebih longgar.
“UEA selalu berada di pihak strategi volume, dan Arab Saudi berada di pihak strategi harga,” kata Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis dan kepala penelitian di Global Risk Management, kepada Middle East Eye.
Perbedaan ini kembali pada bagaimana perekonomian Arab Saudi dan UEA berfungsi. Arab Saudi adalah rumah bagi 35 juta orang dan memiliki cadangan minyak terbukti lebih dari dua kali lipat cadangan minyak terbukti UEA.
UEA hanya memiliki satu juta warga negara, dan oleh karena itu lebih sedikit berbagi keuntungan ke warga dari minyak.
Sementara itu, UEA telah berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur yang akan memungkinkan mereka untuk memompa dan mengekspor lebih banyak minyak, yang oleh para analis disebut sebagai peningkatan kapasitas produksi.
“UEA adalah negara OPEC dengan kapasitas cadangan terbesar dibandingkan dengan produksi,” kata Rasmussen.
“Anda dapat berpendapat bahwa ini adalah perhitungan ekonomi yang tepat karena apa yang ada di dalam tanah mungkin tidak memiliki nilai yang sama seperti dalam lima atau sepuluh tahun ke depan”.

2 hours ago
2
















































