Dari Jurnalis hingga PM Inggris, Ini Perjalanan Andy Burnham

14 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA—Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris setelah menggantikan Keir Starmer pada Senin (20/7/2026). Di balik pencapaiannya sebagai pemimpin pemerintahan Britania Raya, Burnham memiliki perjalanan karier yang panjang, mulai dari bekerja sebagai jurnalis hingga membangun reputasi sebagai salah satu tokoh paling populer di Partai Buruh.

Meski namanya belum terlalu dikenal di panggung politik internasional, Andy Burnham merupakan figur yang memiliki pengaruh besar di Inggris. Popularitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat kiprahnya sebagai Wali Kota Greater Manchester dan sikap vokalnya terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Berdasarkan laporan BBC, Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan menghabiskan masa kecilnya di Culcheth, Cheshire, yang berada di dekat Warrington. Ia berasal dari keluarga kelas pekerja yang dikenal sebagai pendukung setia Partai Buruh. Ayahnya bekerja sebagai teknisi di British Telecom (BT), sedangkan ibunya merupakan resepsionis di klinik dokter umum.

Ketertarikannya terhadap dunia politik tumbuh sejak usia remaja. Saat berusia 14 tahun, Burnham menyaksikan drama BBC Boys from the Blackstuff yang mengangkat kehidupan para pengangguran di Liverpool. Tayangan tersebut disebut menjadi salah satu alasan yang memperkuat pandangannya mengenai pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan bernegara.

Sejak saat itu, Burnham memutuskan bergabung dengan Partai Buruh dan menjadikan isu keadilan sosial sebagai salah satu landasan utama perjuangan politiknya.

Sebagai penggemar klub sepak bola Everton, Burnham juga dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap dunia olahraga. Semasa sekolah, ia merupakan pelempar cepat dalam tim kriket pelajar Lancashire. Bahkan, ketika mengikuti pemilihan simulasi di sekolah menengah Katolik tempatnya menempuh pendidikan, Burnham berhasil memenangkan pemungutan suara sebagai kandidat Partai Buruh dengan selisih yang cukup telak.

Menurut Burnham, latar belakangnya sebagai anak dari keluarga Katolik kelas pekerja sangat memengaruhi pandangan politiknya. Meski mengaku tidak terlalu religius, ia dilantik sebagai anggota parlemen dengan menggunakan Alkitab dan menjadi perdana menteri pertama Britania Raya yang memasuki Downing Street sebagai seorang penganut Katolik.

Menjelang pelantikannya sebagai Perdana Menteri Inggris, Burnham mengungkapkan bahwa ibunya sangat terharu atas pencapaian tersebut. Namun, sang ayah, Roy Burnham, tidak lagi dapat memahami momen bersejarah itu karena menderita demensia.

"Itu adalah sebuah kesedihan karena saya yakin beliau akan bangga. Cara saya memandangnya, ini juga merupakan pencapaiannya. Ini adalah pencapaian seluruh keluarga meskipun beliau tidak lagi mengetahuinya," kata Burnham kepada The Times.

Di luar dunia politik, Burnham dikenal sebagai pencinta musik independen Inggris, khususnya band asal Manchester seperti The Smiths dan The Stone Roses. Ketertarikannya terhadap musik Manchester disebut turut membantunya menemukan jati diri selama menjalani pendidikan di University of Cambridge.

Berawal dari Dunia Jurnalistik

Setelah lulus dari University of Cambridge, Burnham memulai karier profesionalnya sebagai jurnalis dengan bekerja di sejumlah majalah industri, di antaranya Tank World dan Passenger World Management. Karier politiknya dimulai ketika ia menjadi peneliti anggota parlemen Tessa Jowell yang kemudian menjabat menteri pada pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown.

Perjalanan politiknya berkembang pesat. Ia pernah menjadi penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota parlemen dari daerah Leigh, Greater Manchester, pada 2001.

Di pemerintahan Partai Buruh, Burnham dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, mulai dari menteri junior pada era Tony Blair, Kepala Sekretaris Kementerian Keuangan (Chief Secretary to the Treasury), Menteri Kebudayaan, Media dan Olahraga, hingga Menteri Kesehatan pada pemerintahan Gordon Brown.

Saat menjabat Menteri Kebudayaan, Media dan Olahraga, Burnham menghadiri peringatan 20 tahun tragedi Hillsborough pada 2009. Peristiwa tersebut mendorongnya membawa kembali kasus Hillsborough ke kabinet yang kemudian berujung pada penyelidikan kedua atas tragedi yang menewaskan 97 suporter Liverpool.

Burnham juga tercatat dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh. Pada 2010, ia kalah dari Ed Miliband dan kembali gagal pada 2015 setelah dikalahkan Jeremy Corbyn. Kendati demikian, Burnham tetap dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri Bayangan dalam kabinet bayangan Partai Buruh di bawah kepemimpinan Corbyn.

Seiring waktu, pandangan politiknya semakin bergeser ke kiri dengan mendukung nasionalisasi sektor air dan energi. Ia juga tidak ikut mengundurkan diri ketika sejumlah politisi Partai Buruh memprotes kepemimpinan Jeremy Corbyn pada 2016.

Dijuluki King of the North

Pada 2017, Burnham meninggalkan Westminster untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Greater Manchester. Ia memenangi pemilihan dengan perolehan lebih dari 60 persen suara dan kembali terpilih pada 2021 dengan margin kemenangan yang lebih besar.

Selama memimpin Greater Manchester, Burnham mendapat apresiasi atas reformasi transportasi publik melalui pengembangan Bee Network. Greater Manchester menjadi wilayah pertama di Inggris di luar London yang mengembalikan layanan bus ke bawah kendali pemerintah daerah dan mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain dalam satu jaringan.

Popularitas Burnham semakin meningkat pada masa pandemi Covid-19 setelah secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah Konservatif yang dinilainya tidak berpihak kepada wilayah Inggris bagian utara. Sikap tersebut membuat sejumlah media menjulukinya sebagai "King of the North".

Menjelang akhir 2025, namanya mulai dikaitkan sebagai kandidat kuat pemimpin Partai Buruh. Meski sempat gagal kembali ke Westminster karena pencalonannya dalam pemilihan sela ditolak pengurus partai, situasi politik berubah setelah Partai Buruh mencatat hasil pemilu yang mengecewakan di Inggris, Skotlandia, dan Wales pada 2026.

Tekanan terhadap kepemimpinan Keir Starmer pun meningkat. Anggota parlemen Josh Simons kemudian memutuskan mundur agar Burnham dapat maju sebagai calon anggota parlemen dari daerah pemilihan Makerfield. Burnham berhasil kembali ke Westminster dan hanya dalam hitungan pekan dipercaya menjadi pemimpin Partai Buruh.

Kini, mantan jurnalis yang memulai kariernya dari Liverpool tersebut resmi menjadi Perdana Menteri Inggris. Perjalanan panjangnya dari ruang redaksi, parlemen, hingga Downing Street menjadi salah satu perubahan politik terbesar di Britania Raya pada 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|