REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, kehadiran TNI tak selalu ditandai dengan suara sepatu lars atau barisan disiplin.
Justru yang lebih sering terlihat adalah senyum, sapaan hangat, dan langkah kaki yang mendekat ke rumah-rumah warga. Di sana, tentara hadir bukan hanya sebagai penjaga negara, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Yonif 511/DY memilih cara yang sederhana namun bermakna: anjangsana. Mereka datang, duduk bersama warga, berbincang tanpa jarak, dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Di tengah suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota, pendekatan ini justru menjadi kunci membangun rasa aman.
Danpos Karubaga Satgas Pamtas Yonif 511/DY, Kapten Inf Didik Sugianto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas. Anjangsana adalah jembatan, yang menghubungkan prajurit dengan rakyat, memperkuat kemanunggalan, dan menumbuhkan kepercayaan yang tak bisa dibangun hanya dengan kehadiran fisik semata.
Di Kampung Karubaga, kehadiran TNI perlahan mengubah suasana. Warga yang sebelumnya mungkin menjaga jarak, kini mulai membuka diri. Percakapan demi percakapan terjalin, bukan dalam bahasa formal, tetapi dalam bahasa kemanusiaan, tentang kehidupan, kesulitan, dan harapan.
Bagi para prajurit, tugas ini bukan hanya soal menjaga stabilitas keamanan. Mereka juga belajar memahami denyut kehidupan masyarakat Papua Pegunungan. Dari sana, muncul kesadaran bahwa menjaga negara tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan hati.
Melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga, Satgas 511/DY dapat melihat secara nyata tantangan yang dihadapi masyarakat. Dari kebutuhan sehari-hari hingga persoalan sederhana yang sering luput dari perhatian. Di titik inilah, peran TNI menjadi lebih luas, hadir sebagai solusi, bukan sekadar penjaga.
Tokoh pemuda Kampung Karubaga, Kriston Kogoya, merasakan langsung perubahan itu. Baginya, kehadiran TNI bukan lagi sesuatu yang berjarak. Justru sebaliknya, TNI terasa begitu dekat, seperti keluarga sendiri yang siap membantu kapan saja.
“Terima kasih pak tentara,” ucapnya sederhana, namun sarat makna. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi cerminan rasa percaya yang tumbuh dari interaksi yang tulus.
Di balik seragam loreng yang tegas, ada sisi lain yang sering tak terlihat. Ada prajurit yang rela duduk berlama-lama mendengarkan cerita warga. Ada yang membantu menyelesaikan masalah kecil, bahkan sekadar memberi semangat dalam keseharian.
sumber : Antara

5 hours ago
2














































