REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar agenda rutin Ambassador Talk yang kini memasuki seri keempat. Kali ini, forum tersebut mengangkat tema “Surviving Sanction: Iran’s Economic Resilience and Innovation under Embargo.”
Sebagai pembicara utama, Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia HE Mohammad Boroujerdi turut hadir. Diskusi dipandu oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), Bunyan Saptomo.
Dalam paparannya, Dubes Mohammad Boroujerdi memaparkan ketangguhan Iran dalam menghadapi embargo ekonomi berkepanjangan yang diprakarsai Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan, sanksi yang dinilainya ilegal tersebut justru mendorong Iran untuk semakin mandiri.
Lebih lanjut, Dubes Boroujerdi menjelaskan, sebelum Revolusi Islam 1979 Iran memang memiliki citra yang baik di mata dunia Barat. Akan tetapi, indikator kemajuannya masih rendah. Tingkat literasi pada era shah hanya mencapai 30 persen.
Pascarevolusi, Iran justru menunjukkan lonjakan signifikan dalam berbagai sektor. Jumlah mahasiswa meningkat pesat. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang. Pembangunan infrastruktur pendidikan menjangkau hingga daerah-daerah terpencil.
"Ini menjadi bukti bahwa tekanan eksternal tidak selalu berujung pada kemunduran, melainkan dapat menjadi pemicu kemajuan jika direspons dengan strategi yang tepat," ucap Dubes Boroujerdi dalam forum Ambassador Talk yang digelar LHKI Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta, baru-baru ini.
Ia juga menyinggung catatan sejarah terkait Nelson Mandela. Pejuang kesetaraan rasial asal Afrika Selatan itu pernah berkonsultasi dengan Iran dalam merumuskan strategi perjuangan.

1 day ago
4















































