Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian.
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Frans Kongi mengungkapkan, ekspor produk tekstil dan alas kaki di Jateng ke Timur Tengah (Timteng) telah terpukul akibat konflik. Dia mengatakan, risiko keamanan dan tingginya biaya pengiriman membuat para pengusaha lebih memilih menangguhkan dulu ekspor produknya.
Frans menerangkan, konflik yang berlangsung di Timteng memang telah menganggu aktivitas dunia usaha, termasuk yang hendak memasarkan produknya ke kawasan tersebut. "Ekspor kita ke Timur Tengah sudah menurun sekali. Tidak ada kapal mau berangkat ke sana," ujarnya ketika diwawancara, Selasa (7/4/2026).
Dia mengatakan, terdapat beberapa sektor yang saat ini produknya sulit diekspor ke Timteng akibat konflik. "Yang terdampak itu industri garmen, alas kaki juga ada. Kan kita banyak buat busana Muslim dan dipasarkan ke sana," ucap Frans.
Menurut Frans, ekspor bisa saja dilakukan. Namun para pengusaha harus membayar biaya angkut lebih mahal. "Dan itu kita sudah rugi. Misalnya kita biasa bayar satu rupiah, ini bisa antara tiga sampai lima rupiah," katanya.
Karena itu, Frans menyebut, banyak pengusaha yang akhirnya memilih untuk menangguhkan dulu ekspornya ke Timteng. "Karena kalau biaya tinggi, kita juga tak bisa tanggung," ujarnya.
Frans berharap pemerintah dapat menggiatkan upaya diplomasi untuk mendorong penghentian perang di Timteng. Selain itu, dia pun berharap agar pemerintah dapat memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan yang aktivitas bisnisnya terdampak konflik di Timteng. Misalnya dengan menyediakan insentif pajak.

8 hours ago
3














































