Jakarta, CNBC Indonesia - Investor dilaporkan mulai meninggalkan Cliffwater Corporate Lending Fund senilai US$42 miliar atau sekitar Rp713.03 triliun seiring meningkatnya kekhawatiran atas transparansi dan valuasi aset dalam portofolionya. Dana private credit ini bahkan membatasi penarikan dana (redemption) setelah permintaan jual melonjak tajam dari para pemegang saham.
Melansir Wall Street Journal, banyak investor menilai nilai aset bersih (NAV) yang dilaporkan kemungkinan terlalu tinggi, sehingga mendorong mereka untuk menjual kepemilikan atau mencoba keluar dari dana tersebut. Kekhawatiran ini diperparah oleh kompleksitas portofolio yang sulit dipahami, dengan ribuan aset yang tidak familiar bagi investor.
Dalam laporan kuartalan terbarunya, Cliffwater mencatat lebih dari 3.600 kepemilikan, termasuk pinjaman langsung ke perusahaan menengah dan investasi di dana private credit lainnya. Selain itu, terdapat sekitar 1.700 komitmen pinjaman yang belum dicairkan kepada hampir 1.000 peminjam dengan total mencapai US$6,9 miliar.
Mayoritas nama dalam portofolio tersebut tidak dikenal luas, seperti Accordion Partners, ALKU Intermediate Holdings, hingga ZB Holdco. Hal ini semakin menyulitkan investor untuk menilai risiko dan kualitas aset yang dimiliki dana tersebut.
Cliffwater merupakan interval fund private credit terbesar yang terdaftar di SEC, dengan total aset mencapai US$42 miliar dan aset bersih US$31,6 miliar pada akhir tahun. Salah satu mantan pengawasnya adalah Paul Atkins, yang mengundurkan diri sebelum menjabat sebagai Ketua Securities and Exchange Commission pada April 2025.
Salah satu contoh yang memicu skeptisisme investor adalah investasi Cliffwater di Ares Commercial Finance sejak 2021. Dana tersebut sebelumnya disebut akan dilikuidasi pada 30 Juni 2025, namun Cliffwater tetap melaporkan kepemilikan dan bahkan peningkatan nilai investasinya setelah tanggal tersebut berlalu.
Per September 2025, Cliffwater mencatat keuntungan belum terealisasi sebesar US$11 juta dari investasi tersebut, dengan nilai wajar US$64,9 juta. Namun laporan tersebut tetap mencantumkan tanggal likuidasi yang sudah lewat tanpa penjelasan tambahan.
Tiga bulan kemudian, nilai investasi tersebut meningkat menjadi US$111,5 juta dengan biaya perolehan US$98,6 juta, serta keuntungan kertas sebesar US$12,8 juta. Ketiadaan penjelasan atas perubahan ini semakin memperkuat keraguan investor terhadap transparansi pelaporan.
Menanggapi hal tersebut, Cliffwater menyatakan bahwa tanggal likuidasi yang tercantum merupakan kesalahan administratif yang belum diperbarui setelah perubahan menjadi dana evergreen pada kuartal III-2025. Dana evergreen sendiri beroperasi tanpa batas waktu dan perubahan tersebut telah disetujui investor.
Di sisi lain, transparansi valuasi juga menjadi sorotan karena sekitar 71% atau US$29,7 miliar aset dikategorikan sebagai Level 3, yaitu aset dengan input valuasi yang signifikan namun tidak dapat diamati secara langsung di pasar. Kondisi ini membuat penilaian aset menjadi sangat subjektif dan bergantung pada asumsi.
Sebesar US$11,6 miliar atau 28% lainnya ditempatkan pada kendaraan investasi private lain, di mana Cliffwater mengandalkan nilai aset bersih yang dilaporkan oleh manajer dana tersebut. Ketergantungan ini membuat investor harus mempercayai berlapis-lapis proses valuasi yang sulit diverifikasi.
Kekhawatiran terhadap valuasi private credit juga meningkat akibat faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak, risiko inflasi, serta dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap perusahaan teknologi yang memiliki utang tinggi. Kombinasi faktor ini memperbesar ketidakpastian terhadap kualitas aset dalam portofolio.
Sebagai interval fund, investor tidak dapat menarik dana kapan saja dan harus menunggu periode tertentu untuk mengajukan redemption. Cliffwater biasanya membatasi pembelian kembali saham hingga 5% per kuartal, namun pada periode terbaru permintaan mencapai 14% dan hanya 7% yang dapat dipenuhi.
Selama bertahun-tahun, NAV Cliffwater relatif stabil di sekitar US$10 hingga US$10,52 per saham, dengan fluktuasi harian yang sangat minim. Stabilitas ini sebelumnya dianggap sebagai keunggulan, namun kini justru memicu kekhawatiran karena memberi insentif bagi investor untuk keluar di harga yang dinilai masih tinggi.
Secara struktural, dana seperti ini menghadapi tantangan karena menawarkan likuiditas jangka pendek sementara berinvestasi pada aset jangka panjang yang tidak likuid dan sulit dinilai. Investor yang tetap bertahan berisiko menghadapi penjualan aset dengan harga tidak menguntungkan jika tekanan redemption terus meningkat.
(fsd/fsd)
Addsource on Google


















































