Harianjogja.com, LONDON—Tekanan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Irlandia mulai direspons dengan langkah cepat pemerintah yang menyiapkan kebijakan jangka pendek untuk meringankan beban masyarakat.
Kebijakan ini disiapkan di tengah dampak konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan mulai dirasakan langsung oleh warga.
Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menyatakan pemerintah tengah merancang langkah terarah untuk meredam tekanan tersebut, meski detail kebijakan masih dalam pembahasan.
"Pertama-tama, kami akan mempertimbangkan serangkaian langkah segera, jangka pendek, yang terarah dalam hal tekanan langsung pada masyarakat," katanya dalam konferensi pers di lokasi pembangunan perumahan, Senin (23/3/2026).
Sejumlah opsi yang mengemuka antara lain skema pengembalian pajak, pemberian tunjangan bahan bakar ganda, hingga kemungkinan pengurangan bea cukai.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menekan lonjakan harga BBM yang berdampak pada biaya hidup masyarakat.
Namun, langkah itu juga mendapat sorotan dari oposisi Sinn Fein yang menilai pengembalian pajak untuk pengangkut BBM berpotensi membatasi pengurangan bea cukai solar bagi pengguna lain.
Selain itu, pemerintah juga membuka opsi kebijakan jangka menengah terkait efisiensi energi.
Hal tersebut mencakup kemungkinan peningkatan hibah tenaga surya hingga pengaturan batas kecepatan di jalan raya untuk menekan konsumsi energi.
Kondisi ini tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Situasi semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal yang menyasar Israel serta wilayah di negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan balasan itu menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Ia menyebut keputusan tersebut diambil setelah pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan Iran dalam dua hari terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































