REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Harga minyak dunia anjlok lebih dari 10 persen setelah Iran menyatakan Selat Hormuz akan “sepenuhnya terbuka” bagi kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata. Dilansir ABC, Sabtu (18/4/2026), harga minyak Brent dibuka di kisaran 98 dolar AS, kemudian turun menjadi 86,52 dolar AS per barel pada pukul 10.50 waktu EDT, kurang dari dua jam setelah pengumuman disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melalui media sosial X.
“Jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata,” ujar Abbas.
Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh 80,56 dolar AS setelah sebelumnya dibuka di sekitar 93 dolar AS.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global selama konflik berlangsung.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak mentah dunia. Jalur ini sempat terganggu sejak Iran menutup akses menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal Maret.
Data Kpler menunjukkan lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat keluar dari pasar global akibat gangguan tersebut, menjadikannya sebagai salah satu disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Meski pembukaan kembali Selat Hormuz meningkatkan optimisme pasar terhadap pemulihan rantai pasok energi, pelaku industri pelayaran masih bersikap hati-hati.
Presiden AS Donald Trump menyatakan blokade terhadap pelabuhan Iran masih tetap diberlakukan, meskipun pembukaan jalur pelayaran telah diumumkan.
Direktur Riset perusahaan pialang keuangan Eropa XTB, Kathleen Brooks, menilai perkembangan ini merupakan sinyal positif bagi pasar.
“Ini adalah perkembangan terbesar selama masa gencatan senjata dan memberikan harapan bahwa konflik akan segera berakhir serta rantai pasok dapat kembali normal,” ujarnya.
Namun demikian, Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) masih melakukan verifikasi terhadap pengumuman tersebut.
Asosiasi Pemilik Kapal Norwegia (Norwegian Shipowners’ Association/NSA) juga menyatakan masih membutuhkan kejelasan lebih lanjut, terutama terkait keamanan, keberadaan ranjau, serta implementasi teknis di lapangan.
“Kami menyambut baik jika ini menjadi langkah menuju pembukaan penuh,” ujar Kepala Eksekutif NSA Knut Arild Hareide.
Perusahaan pelayaran global Maersk juga menyatakan akan mengambil pendekatan hati-hati dalam merespons situasi ini.
Sejak konflik berlangsung, perusahaan mengikuti rekomendasi keamanan untuk menghindari pelayaran melalui Selat Hormuz.
“Setiap keputusan untuk melintasi selat akan didasarkan pada penilaian risiko dan pemantauan ketat terhadap situasi keamanan,” ujar juru bicara Maersk.
sumber : ANTARA

2 hours ago
1















































