Hari Kartini, UMB Kukuhkan Dua Perempuan Jadi Guru Besar

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Universitas Mercu Buana (UMB) mengukuhkan dua guru besar perempuan bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026). Pengukuhan ini dinilai tidak hanya sebagai capaian akademik, tetapi juga simbol pergeseran peran perempuan dalam menentukan arah ilmu pengetahuan. Perempuan tidak lagi sekadar partisipan, melainkan aktor utama dalam membentuk wacana dan kebijakan.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Kampus Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta Barat, dan dihadiri perwakilan LLDIKTI Wilayah III serta jajaran yayasan. Kegiatan ini juga menjadi refleksi atas relevansi semangat Kartini dalam pendidikan tinggi saat ini.

Dua guru besar yang dikukuhkan yakni Nurhayani Saragih di bidang media dan komunikasi serta Augustina Kurniasih di bidang manajemen keuangan. Keduanya dinilai memiliki kontribusi strategis dalam menjawab tantangan zaman.

Rektor Universitas Mercu Buana Andi Adriansyah mengatakan, jabatan guru besar bukan sekadar pencapaian akademik. Posisi ini juga membawa tanggung jawab moral dalam menjaga arah peradaban.

“Guru Besar adalah penjaga api keilmuan sekaligus penjaga arah peradaban. Mereka tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” kata Andi, Rabu (22/4/2026).

Ia menegaskan, kehadiran perempuan sebagai guru besar menunjukkan pergeseran penting dalam dunia akademik. Perempuan kini berperan sebagai pemimpin pemikiran yang aktif membentuk perkembangan ilmu.

“Di tengah percepatan perubahan dan disrupsi teknologi, sosok Guru Besar diharapkan mampu menjembatani antara pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral,” kata Andi.

Dalam orasi ilmiahnya, Nurhayani menyoroti perubahan besar dalam ekosistem komunikasi. Transformasi digital dinilai menggeser peran publik dari sekadar penerima menjadi produsen informasi.

“Perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang masif, termasuk disinformasi dan fenomena hiperrealitas, menuntut peran akademisi dalam menjaga kualitas wacana publik. Literasi media dan etika komunikasi menjadi krusial agar komunikasi tidak hanya efektif, tetapi juga berkeadaban,” kata Nurhayani.

Sementara itu, Augustina menekankan pentingnya pendekatan baru dalam manajemen keuangan. Aspek keberlanjutan dan keadilan dinilai semakin relevan dalam sistem ekonomi modern.

“Isu keadilan distribusi, keberlanjutan, serta orientasi pada nilai kemanusiaan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sistem ekonomi modern,” kata Augustina.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|