Ikan Sapu-Sapu dari Amazon Pindah ke Kali Ciliwung, Ini Sejarahnya

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ikan sapu-sapu jadi pembicaraan belakangan ini. Sebab pihak pemerintah provinsi DKI Jakarta melakukan pemusnahan massal karena peningkatan populasi ikan di sungai yang ada di ibu kota.

Sebenarnya, ikan sapu-sapu atau Pterygoplichthys pardalis bukanlah ikan asli Indonesia. Hewan ini berasal jauh dari Amerika Selatan, tepatnya berada di sungai Amazon.

Artikel dari Mahasiswa Doktoral Biologi Universitas Gadjah Mada, Alfian Primahesa yang dipublikasikan di laman The Conversation menyebutkan ikan sapu-sapu memiliki ciri tubuh dari lapisan keras yang bertutul. Perlindungan ini membuat ikan dapat bertahan di habitat asli yang ekstrem.

Dalam buku "Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung" oleh Dewi Elfidasari disebutkan ikan sapu-sapu itu bisa masuk tanah air melalui perdagangan ikan hias.

Bentuk tumbuh dan penampilan menariknya membuat ikan sapu-sapu dikenal sebagai salah satu ikan hias yang populer. Selain itu juga merupakan ikan peliharaan untuk akuarium.

Banyak orang yang memeliharanya sebagai pembersih alami untuk kolam ataupun akuarium. Ikan itu akan terlihat di bagian dasar air untuk membersihkan lingkungannya.

Buku itu juga menuliskan ikan sapu-sapu di Indonesia memiliki peranan untuk memakan sisa pakan, alaga atau lumut dan sisa biota yang mati di perairan.

Tingginya minat pada ikan sapu-sapu membuat ikan ini didatangkan langsung dari Amerika Selatan. Buku tersebut menyebut ikan tersebut sebagai introduksi yang sengaja dimasukkan dari daerah atau negara lain.

Seiring berjalannya waktu, ikan itu mengalami perubahan ukuran tubuh dan peningkatan kemampuan konsumsi makanan.

Ikan sapu-sapu tidak lagi hanya mengonsumsi lumut dan alga, namun juga telur ikan jenis lain di kolam yang sama dengan hewan itu.

Perilaku ini juga yang membuat ikan sapu-sapu dilepaskan ke sungai ke sejumlah perairan air tawar, termasuk Sungai Ciliwung. Meskipun berada di tempat baru, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi termasuk tempat yang memiliki kadar oksigen rendah dan tercemar.

Di Ciliwung sendiri, populasinya terus mengalami peningkatan. Pada akhirnya memberikan dampak negatif dan disebut sebagai spesies invasif yang berdampak pada kesehatan manusia, lingkungan alami dan ekonomi.

Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga, Veryl Hasan menjelaskan ikan lokal tidak bisa bertahan hidup pada kondisi sungai yang rusak. Sebaliknya ikan sapu-sapu dapat bertahan dan membuat populasinya meledak.

Bahaya Ikan Sapu-sapu di Jakarta

Veryl menyoroti keberadaan spesies seperti ikan sapu-sapu yang masuk ke perairan Indonesia tanpa predator alami yang memadai. Ikan itu juga dapat menggeser keberadaan ikan lokal.

Ikan sapu-sapu dapat memanfaatkan hampir seluruh sumber daya di sungai, serta membuat persaingan yang berat untuk mendapatkan makanan serta bertahan hidup dengan ikan lokal.

"Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti," jelasnya.

Hal ini berbeda saat ikan sapu-sapu berada di lingkungan yang sehat. Sebab ikan yang dikenal dengan sebutan pleco harus bersaing dengan banyak ikan lokal lainnnya.

Veryl menegaskan untuk adanya penegakan aturan soal larangan pelepasan ikan asing ke sungai. Termasuk juga melakukan pengawasan dan tindakan di lapangan.

Masalah ini juga bukan hanya soal menangkap ikan sapu-sapu saja. Namun perlu memulihkan kualitas air sungai.

Dengan begitu ikan lokal akan lebih banyak yang bisa bertahan hidup dan menyeimbangkan ekosistem. "Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya," tegasnya

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|