REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menegaskan bahwa smart engineering harus mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat. Hal ini disampaikan dalam peringatan World Engineering Day (WED) for Sustainable Development 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 4-5 Maret 2026.
WED 2026 dihadiri oleh sekitar 600 delegasi dari 39 negara, termasuk menteri, pimpinan organisasi internasional, akademisi, industri, insinyur muda, dan mahasiswa. Agenda ini menjadi platform strategis untuk menggabungkan keahlian teknik, teknologi, dan kebijakan publik dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan global.
Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah WED 2026, menandai pertama kalinya negara di kawasan Asia-Pasifik menjadi penyelenggara sejak perayaan ini dimulai pada 2020. Dengan tema 'SMART Engineering for a Sustainable Future Through Innovation and Digitalization', acara ini menyoroti peran sentral engineering dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Kontribusi Global dan Inovasi
Forum ini juga mengumumkan pemenang WFEO Hackathon, yang menyoroti inovasi mahasiswa engineer dari seluruh dunia. Tim pemenang berasal dari American University of Sharjah, UEA, dengan proyek "THINK: Smart Adaptive Streetlight System for Extreme Heat Resilience in the UAE". Secara keseluruhan, para pemenang datang dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah.
Presiden WFEO, Seng-Chuan Tan, menyatakan bahwa WED 2026 menandai langkah konkret untuk memperkuat komunitas engineering global dan kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan. Langkah-langkah ini termasuk peluncuran WFEO Institute untuk mendorong keunggulan engineering dan pembentukan World Academy of Engineering untuk mengakui pemimpin teknik terkemuka.
Inisiatif lainnya adalah mendukung negara berkembang dan negara kepulauan kecil menghadapi tantangan pembangunan, termasuk perubahan iklim. Nota kesepahaman dengan International Research Center of Big Data for Sustainable Development Goals (CBAS) juga ditandatangani untuk menyelaraskan solusi teknik dengan tujuan global.
Selain itu, PII menandatangani nota kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Indonesia untuk mengoptimalkan perlindungan dan pemanfaatan kekayaan intelektual inovasi para insinyur.
Ilham Habibie menekankan bahwa WED bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi platform kolaborasi global untuk solusi konkret. Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam praktik engineering harus menjunjung literasi digital dan etika agar inovasi tidak melampaui nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
1

















































