REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR — Malaysia memperkuat posisinya dalam peta ekonomi digital global dengan menjadi pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) Huawei untuk kawasan Asia Pasifik. Langkah ini menandai upaya negara tersebut untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pemain aktif dalam pengembangan AI.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia membuka diri terhadap kolaborasi global dalam pengembangan AI, namun tetap menjaga kedaulatan nasional, khususnya dalam pengelolaan data dan implementasi teknologi di sektor publik.
“Kami tidak akan melepaskan keputusan yang paling penting, bagaimana data kami diatur, bagaimana sistem AI digunakan di lembaga publik kami, dan bagaimana teknologi baru diperkenalkan ke dalam kehidupan warga negara kami,” ujar Anwar dalam peluncuran Laboratorium AI dan Pusat Inovasi Huawei, beberapa hari lalu.
Ia menekankan bahwa transformasi digital harus tetap berpijak pada prinsip keadilan sosial. Menurutnya, pengembangan teknologi yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan kesetaraan berisiko memperlebar jurang sosial.
Laboratorium AI dan pusat inovasi Huawei tersebut merupakan yang pertama dibangun di luar China dan dirancang untuk melayani kawasan Asia Pasifik. Fasilitas seluas 13.638 kaki persegi itu akan menjadi ruang kolaborasi bagi industri, akademisi, dan pemerintah dalam mengembangkan solusi berbasis AI, sekaligus mencetak talenta digital Malaysia.
Anwar juga menyampaikan apresiasi kepada Huawei atas kepercayaan yang diberikan kepada Malaysia. Ia menilai kerja sama tersebut mencerminkan kemitraan strategis yang tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Langkah Malaysia ini terjadi di tengah meningkatnya persaingan global dalam pengembangan AI. Negara-negara berlomba membangun ekosistem teknologi untuk memperkuat daya saing ekonomi sekaligus posisi strategis di tingkat internasional.
Sebelumnya, Microsoft mengumumkan investasi besar senilai sekitar 17,9 miliar dolar AS atau lebih dari Rp300 triliun untuk membangun infrastruktur AI di Australia. Investasi tersebut mencakup pengembangan pusat data, superkomputasi, serta pelatihan jutaan tenaga kerja dalam bidang AI.
Langkah Australia dan Malaysia menunjukkan bahwa kawasan Asia Pasifik semakin menjadi arena penting dalam persaingan teknologi global, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan.
sumber : Xinhua

3 hours ago
3

















































