Ini Alasan Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026

7 hours ago 4

Jumali

Jumali Selasa, 21 Juli 2026 13:07 WIB

Ini Alasan Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA


Harianjogja.com, JOGJA—Final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Amerika Serikat, tidak hanya menyajikan pertarungan sengit antara Spanyol dan Argentina. Di luar lapangan, perhatian dunia sepak bola justru tertuju pada absennya Presiden UEFA Aleksander Ceferin dari tribun kehormatan.

Ketidakhadiran orang nomor satu di sepak bola Eropa itu bukan karena alasan pribadi. Ceferin memilih tidak datang sebagai bentuk protes terhadap serangkaian keputusan FIFA yang dianggap kontroversial sepanjang turnamen berlangsung.

Puncak ketegangan terjadi setelah FIFA memutuskan menangguhkan sanksi larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada awal Juli. Berdasarkan regulasi yang berlaku, pemain yang mendapat kartu merah otomatis menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan berikutnya.

Namun FIFA kemudian memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut sehingga Balogun tetap dapat dimainkan. FIFA menjelaskan keputusan itu diambil berdasarkan kewenangan Komite Disiplin yang menerapkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.

Keputusan tersebut langsung memicu kontroversi karena muncul setelah Donald Trump mengakui telah berbicara dengan Presiden FIFA Gianni Infantino dan meminta agar insiden yang melibatkan Balogun ditinjau ulang. Trump menegaskan dirinya hanya meminta peninjauan dan tidak mengarahkan hasil keputusan.

Reuters melaporkan, meski FIFA berkali-kali menegaskan tidak ada campur tangan politik dalam proses pengambilan keputusan, UEFA menilai kasus tersebut menciptakan persepsi yang berbahaya bagi integritas kompetisi. UEFA bahkan menyebut langkah FIFA telah melewati "garis merah" karena membuka ruang pertanyaan mengenai independensi proses disiplin dalam sepak bola internasional.

Boikot yang dilakukan Ceferin menjadi simbol nyata memburuknya hubungan antara dua organisasi paling berpengaruh dalam sepak bola dunia tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEFA dan FIFA sudah beberapa kali berselisih mengenai berbagai isu strategis. Mulai dari rencana perluasan jumlah peserta Piala Dunia, perubahan kalender pertandingan internasional, hak siar, hingga sejumlah aturan baru yang diterapkan FIFA dalam turnamen global.

Meski UEFA mengelola kompetisi paling prestisius di level klub dan tim nasional Eropa, pengaruh politik organisasi itu di FIFA memiliki keterbatasan. Dari total 211 anggota FIFA, UEFA hanya memiliki 55 asosiasi anggota. Kondisi tersebut membuat FIFA tetap memiliki basis dukungan yang kuat dari konfederasi lain, terutama di Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Situasi ini menjadikan posisi Gianni Infantino relatif aman dalam struktur politik sepak bola global. Sebaliknya, UEFA harus mencari cara lain untuk menekan FIFA selain melalui mekanisme pemungutan suara.

Absennya Ceferin di final Piala Dunia 2026 dipandang banyak pihak sebagai pesan politik yang sangat jelas. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pandangan antara FIFA dan UEFA kini tidak lagi sekadar perdebatan administratif, melainkan telah berkembang menjadi pertarungan mengenai arah tata kelola sepak bola dunia.

Dengan Piala Dunia 2030 yang akan digelar di enam negara dan tiga benua, ketegangan antara kedua organisasi diperkirakan belum akan mereda. Sebaliknya, konflik ini berpotensi menjadi salah satu isu terbesar yang membentuk masa depan sepak bola internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|