REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah belum langsung pasokan minyak Indonesia dari negara-negara Arab. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor migas dari kawasan tersebut pada Januari 2026 masih berjalan normal.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sejauh ini belum ada indikasi gangguan pada arus impor migas. Meski demikian, ia menekankan dampak konflik tetap perlu dikaji lebih lanjut.
“Untuk memastikan ada atau tidaknya pengaruh terhadap neraca perdagangan, tentu perlu kajian lebih lanjut. Namun, data Januari masih menunjukkan impor migas berjalan,” kata Ateng dalam Taklimat Media di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Pada Januari 2026, impor migas dari Arab Saudi tercatat sebesar 267,4 juta dolar AS atau menyumbang 8,44 persen dari total impor migas nasional. Impor dari Uni Emirat Arab mencapai 200,6 juta dolar AS (6,34 persen), Mesir sebesar 73,4 juta dolar AS (2,32 persen), dan Oman 67,9 juta dolar AS (2,14 persen). Sementara itu, impor dari Qatar tercatat 1,8 juta dolar AS.
Angka-angka tersebut menunjukkan kawasan Timur Tengah masih menjadi salah satu tumpuan pasokan energi Indonesia. Di tengah lonjakan harga minyak dunia, stabilitas pasokan ini penting karena berhubungan langsung dengan harga bahan bakar dan biaya hidup masyarakat.
Sebagai gambaran, pada 2025 impor bahan bakar mineral dari Iran relatif kecil, yakni 0,45 juta dolar AS. Artinya, secara struktur, ketergantungan langsung Indonesia terhadap impor migas dari Iran tidak signifikan.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 menyusut menjadi 0,95 miliar dolar AS dari 2,51 miliar dolar AS pada Desember 2025. Menurut Ateng, penyusutan tersebut terjadi karena ekspor turun lebih dalam dibandingkan impor.
“Baik migas maupun nonmigas sama-sama mengalami penurunan ekspor dan impor,” ujarnya.

3 hours ago
2










































