REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKARAYA -- Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jahitan, Kalimantan Tengah, tidak berhenti pada sosialisasi, patroli, dan pemadaman. Melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), keberhasilan desa menjaga wilayahnya dari kebakaran juga mendapat penghargaan berupa dana reward yang kemudian dikembangkan menjadi usaha produktif.
Di Desa Jahitan, dana sekitar Rp100 juta tersebut digunakan untuk mengembangkan usaha batako. Usaha itu kini mempekerjakan enam warga dan mampu memproduksi sekitar 800-1.000 batako per hari.
General Manager Region Kalteng dan Sumatera PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP), Japatar Banjarnahor, mengatakan pendekatan tersebut dirancang untuk menghubungkan pencegahan karhutla dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
"DMPA Batako ini memberikan lapangan pekerjaan yang sustain, di mana masyarakat tidak perlu membakar lahan, tetapi sudah mendapatkan mata pencaharian baru," kata Japatar, Kamis (28/8/2026).
Menurut Japatar, pengendalian karhutla tidak dapat dilakukan hanya ketika api sudah muncul. Kesiapsiagaan harus dibangun sepanjang tahun melalui pencegahan, deteksi dini, kesiapan personel, edukasi, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah.
"Menghadapi Karhutla tidak bisa menunggu saat api muncul. Kesiapan harus dibangun jauh sebelum itu, dan dilakukan sepanjang tahun. Karena itu, pendekatan kami bukan hanya pemadaman, tetapi mencakup pencegahan, deteksi dini, kesiapan personel, edukasi, hingga kolaborasi dengan masyarakat," ujarnya.
Ia mengatakan karhutla merupakan ancaman yang berdampak terhadap perusahaan, masyarakat, dan lingkungan. Karena itu, pengendaliannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Pengendalian karhutla adalah tanggung jawab yang tidak bisa dipikul sendiri. Menuntut sinergi semua pihak, pemerintah, pemegang izin atau perusahaan dan masyarakat," kata Japatar dalam pemaparan kesiapsiagaan karhutla PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM) di Kalimantan Tengah, Rabu (26/8/2026).
Bagi masyarakat Desa Jahitan, kebakaran tidak selalu bermula dari kesengajaan membuka lahan. Api juga dapat muncul dari aktivitas warga ketika beraktivitas di kawasan perairan atau lahan yang mengering saat musim kemarau. Kepala Desa Jahitan, Sudarmono, mengatakan pendekatan kepada masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran.
"Kalau saya lihat itu kadang-kadang mungkin ada yang nggak sengaja," katanya, Rabu (26/8/2026).
Ia mengatakan sebagian warga masih melakukan aktivitas di kawasan danau ketika musim kemarau. Saat air surut, kawasan tersebut menjadi lokasi warga mencari ikan.
"Kebanyakan itu kalau saya lihat kadang-kadang mereka ini kan kalau sudah kayak gini mungkin masalah mencari ikan," ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, bara rokok yang dibuang sembarangan dapat menjadi sumber api.
"Kadang-kadang mereka merokok langsung dibuang gitu aja," kata Sudarmono.
Staf Desa Jahitan, Aminudin, mengatakan pemerintah desa sejauh ini belum menemukan kasus warga yang sengaja membakar lahan untuk membuka perkebunan. Dua kejadian kebakaran yang dilaporkan di wilayah Desa Jahitan dalam periode terakhir juga terjadi di sekitar kawasan danau.
Lokasi tersebut dinilai tidak layak untuk dijadikan ladang sehingga aktivitas warga mencari ikan menjadi salah satu dugaan penyebab munculnya api.
Desa Jahitan memiliki sekitar 714 jiwa yang tersebar dalam tiga RT dan satu RW. Pemerintah desa menyampaikan informasi mengenai bahaya kebakaran melalui pertemuan langsung maupun grup WhatsApp masyarakat.
"Kita sering sosialisasi atau informasi di grup-grup WhatsApp atau sosialisasi ke masyarakat masalah bahaya atau pencegahan atau kerugian kita dengan adanya kebakaran," kata Aminudin.

6 hours ago
7
















































