Jakarta, CNBC Indonesia - Intelijen Amerika Serikat (AS) menilai serangan langsung Iran terhadap kapal tanker minyak menjadi ancaman yang lebih besar dibandingkan pemasangan ranjau laut di Selat Hormuz. Jalur laut vital ini merupakan rute utama perdagangan minyak dunia yang mengalir dari Teluk Persia menuju pasar global.
Sejumlah pejabat yang mengetahui laporan intelijen tersebut menyebutkan risiko terbesar berasal dari potensi serangan langsung Iran, seperti penggunaan drone serang satu arah dalam jumlah besar atau rudal balistik dari darat ke kapal.
"Hanya satu rudal atau drone yang lolos dari sistem pertahanan sudah cukup untuk menghancurkan atau menenggelamkan kapal tanker," ujar dua sumber yang mengetahui laporan tersebut, dikutip dari informasi intelijen yang disampaikan kepada pejabat AS, Kamis (12/3/2026).
Kekhawatiran itu muncul di tengah konflik antara AS, Israel, dan Iran yang memanas sejak akhir Februari. Intelijen menilai strategi serangan langsung dapat memberi Iran pengaruh besar terhadap jalur perdagangan energi global, bahkan ketika militer AS meningkatkan operasi militer di kawasan tersebut.
Pada Selasa lalu, pemerintahan Donald Trump melancarkan serangan terhadap 16 kapal yang diduga digunakan Iran untuk menebar ranjau di sekitar selat tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM bahkan merilis video yang memperlihatkan amunisi menghantam sembilan kapal, sebagian besar saat sedang berlabuh.
Meski demikian, sejumlah pejabat militer menilai ancaman ranjau relatif lebih mudah diantisipasi dibanding serangan langsung. AS sebelumnya telah menyiapkan langkah-langkah penanggulangan jika Iran mencoba menutup jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu.
Isu keamanan Selat Hormuz juga menjadi topik dalam pengarahan rahasia militer kepada anggota parlemen AS pada Selasa. Sejumlah politisi Partai Demokrat keluar dari pertemuan tersebut dengan kritik keras terhadap strategi pemerintah.
"Saya tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana Iran menghambat Selat Hormuz, tetapi cukup dikatakan bahwa saat ini mereka tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman," tulis Senator Chris Murphy melalui media sosial setelah menghadiri pengarahan tersebut, seperti dikutip Guardian.
Sejak konflik meningkat pada 28 Februari, pasukan Korps Garda Revolusi Islam disebut telah secara efektif membuat lalu lintas kapal tanker di selat itu terhenti. Banyak kapal pengangkut minyak akhirnya tertahan di perairan sekitar Teluk Persia karena kekhawatiran akan serangan.
Gangguan terhadap jalur pasokan energi tersebut langsung berdampak pada pasar global. Penurunan pasokan minyak mendorong lonjakan harga minyak dunia yang pada akhirnya memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk AS.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan militer AS telah berhasil menghancurkan sejumlah senjata yang berpotensi digunakan Iran untuk menyerang kapal. Ia memperkirakan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz bisa kembali normal dalam "beberapa minggu", meskipun tidak merinci langkah pengamanan yang akan diambil.
Namun ketegangan di kawasan masih tinggi. Data pelacakan maritim menunjukkan sedikitnya tiga kapal diserang di sekitar selat pada Rabu, termasuk kapal kontainer Jepang dan dua kapal pengangkut barang curah. Iran bahkan mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal curah asal Thailand, Mayuree Naree, yang dilaporkan sedang berada di Selat Hormuz saat insiden terjadi.
(tfa/luc)
Addsource on Google


















































