Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua - Shadati
Harianjogja.com, JAKARTA—Iran resmi menyetujui gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) sekaligus membuka jalan bagi dimulainya perundingan bilateral. Keputusan strategis ini telah mendapatkan persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kebijakan tersebut diambil secara bulat oleh lembaga-lembaga utama negara setelah AS menerima kerangka dan ketentuan umum yang diajukan Teheran.
“Kebijakan terkait gencatan senjata dan perundingan diadopsi secara bulat oleh lembaga-lembaga utama pemerintah dan disetujui oleh Pemimpin Tertinggi Iran setelah Amerika Serikat menerima ketentuan umum serta kerangka yang diajukan oleh Iran,” demikian pernyataan resmi presiden, Kamis (9/4/2026).
AS Umumkan Gencatan Senjata Dua Pekan
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua pekan. Selain itu, Iran juga disebut bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Kesepakatan ini menjadi langkah awal meredakan ketegangan geopolitik yang sempat meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memastikan perundingan resmi dengan AS akan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan. Pertemuan ini diharapkan menjadi pintu masuk menuju kesepakatan yang lebih luas.
Serangan Israel Picu Ketegangan Baru
Di tengah upaya diplomasi tersebut, situasi di kawasan belum sepenuhnya kondusif. Militer Israel dilaporkan melancarkan serangan udara dan artileri ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kota Tyre, pada Rabu (8/4/2026).
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata karena berkaitan dengan kelompok Hizbullah.
Namun, Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata yang telah disepakati dengan AS.
Langkah Iran menyetujui negosiasi dengan AS menandai perubahan penting dalam dinamika geopolitik kawasan. Jika perundingan berjalan lancar, bukan tidak mungkin ketegangan yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah dapat mereda secara bertahap.
Meski demikian, perkembangan di lapangan, terutama terkait konflik yang melibatkan pihak lain seperti Israel dan Hizbullah, tetap menjadi faktor penentu keberhasilan kesepakatan ini ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

















































