Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah semakin memanas dengan perluasan konflik. Terbarunya, Pemerintah Iran menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Pulau Diego Garcia, Samudra Hindia.
Aksi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk balasan setelah otoritas Inggris memberikan izin kepada militer AS untuk melancarkan serangan ke situs rudal Iran dari pangkalan udara mereka.
Melansir The Guardian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons keras keputusan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terkait pemberian izin operasional pangkalan tersebut. Ia menilai kebijakan Starmer yang melibatkan fasilitas militer Inggris dalam agresi ini justru secara langsung membahayakan nyawa warganya sendiri.
"Mengabaikan rakyatnya sendiri, Tuan Starmer menempatkan nyawa warga Inggris dalam bahaya dengan mengizinkan pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran. Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri," kata Araghchi dilansir The Guardian, Sabtu (21/3/2026).
Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa serangan rudal ke wilayah Kepulauan Chagos tersebut tidak mengenai sasaran. Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat, satu rudal berhasil ditembak jatuh oleh kapal perang AS, sementara satu rudal lainnya mengalami kegagalan fungsi saat terbang.
Sayangnya, para pejabat Inggris belum memberikan rincian tentang upaya serangan yang gagal tersebut. Tidak jelas seberapa dekat rudal-rudal itu mendekati pangkalan tersebut, yang berjarak 4.000 km (2.500 mil) dari Iran di Samudra Hindia
"Serangan Iran yang sembrono, yang menyebar ke seluruh kawasan dan menyandera Selat Hormuz, merupakan ancaman bagi kepentingan Inggris dan sekutu Inggris," tegas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Inggris.
Di samping itu, Presiden AS Donald Trump menyoroti dinamika politik di Inggris serta lambatnya respons negara tersebut. Ia juga memberikan tekanan tajam kepada sekutu NATO dan menyebut mereka sebagai pengecut karena menolak mengirimkan kapal perang untuk membuka kembali Selat Hormuz.
"(Inggris) seharusnya bertindak jauh lebih cepat," ujar Trump.
Menghadapi eskalasi geopolitik dan dampaknya secara domestik, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat Cobra pada pekan depan. Pertemuan tersebut akan difokuskan untuk membahas rencana bantuan bagi masyarakat Inggris dalam menghadapi potensi lonjakan biaya hidup akibat perang yang sedang berlangsung.
(hoi/hoi)
Addsource on Google


















































