Air minum (ilustrasi). Menjaga hidrasi selama Ramadhan bukan soal seberapa banyak gelas air yang diminum, melainkan seberapa cerdas mengatur ritme cairannya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjaga hidrasi selama Ramadhan bukan soal seberapa banyak gelas air yang diminum, melainkan seberapa cerdas mengatur ritme cairannya. Banyak dari kita yang melakukan kesalahan fatal saat bedug Maghrib berkumandang, seperti menenggak air dalam jumlah besar secara sekaligus.
Alih-alih menyegarkan, kebiasaan ini justru memicu rasa begah, perut kembung, hingga pusing yang bisa mengganggu kekhusyukan ibadah Sholat Tarawih. Saat puasa, tubuh tanpa asupan cairan selama lebih dari 12 hingga 14 jam.
Kondisi ini membuat organ-organ penting bekerja lebih lambat untuk menghemat energi. Saat waktu berbuka tiba, tubuh membutuhkan proses adaptasi, bukan gempuran air secara mendadak yang bisa mengejutkan sistem ginjal dan pencernaan. Senior Clinical Nutritionist dari Aster Hospitals, Aditi Prasad Apte, mengatakan perencanaan asupan air adalah pilar utama untuk menghindari kelelahan kronis dan sakit kepala selama Ramadhan.
"Berpuasa selama Ramadhan membutuhkan pengelolaan hidrasi yang tepat untuk menghindari dehidrasi, kelelahan, dan sakit kepala selama waktu iftar dan sahur," ujarnya dikutip dari India Today pada Jumat (20/2/2026).
Dia mengatakan minum dengan cara yang benar tidak hanya menjaga tingkat energi, tetapi juga mendukung sistem pencernaan dan mencegah masalah umum seperti pusing, kelemahan, hingga mulut kering yang mengganggu kenyamanan.

2 weeks ago
4

















































