Kebakaran Gunungkidul 154 Kasus, Kerugian Rp2,96 Miliar dan Tewaskan 2 Orang

4 hours ago 3

Kebakaran Gunungkidul 154 Kasus, Kerugian Rp2,96 Miliar dan Tewaskan 2 Orang

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus kebakaran di Gunungkidul sepanjang 2026 melonjak tajam. Hingga pertengahan September, UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Gunungkidul mencatat 154 kejadian dengan total kerugian material mencapai Rp2.968.000.000.

Dari jumlah tersebut, 81 kasus merupakan kebakaran lahan dan hutan. Sementara itu, kasus lainnya meliputi kebakaran rumah, kandang, serta bangunan lainnya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT Damkarmat BPBD Gunungkidul, Ngadiyono, mengatakan tingginya kasus kebakaran tidak terlepas dari kondisi kemarau panjang yang terjadi tahun ini.

Ia menyebut angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2025. Pada tahun lalu, kebakaran tercatat terjadi di 59 lokasi, dengan empat di antaranya merupakan kebakaran lahan.

“Jumlahnya naik signifikan dibandingkan kejadian di 2025. Tahun lalu, kebakaran terjadi di 59 lokasi, yang empat di antaranya merupakan kebakaran lahan,” kata Ngadiyono, Rabu (16/9/2026).

Dua Warga Tewas

Lonjakan kasus kebakaran di Gunungkidul tahun ini juga menimbulkan korban jiwa. Ngadiyono mencatat ada dua warga yang meninggal dunia akibat kebakaran.

Kedua kasus tersebut terjadi di Kalurahan Botodayaan, Kapanewon Rongkop dan Dadapayu, Kapanewon Semanu. Keduanya merupakan warga lanjut usia yang meninggal dunia ketika melakukan aktivitas pembakaran sampah.

“Keduanya merupakan lansia yang meninggal dunia terbakar saat aktivitas pembakaran sampah,” katanya.

Selain korban jiwa, kerugian material akibat seluruh kejadian kebakaran hingga September mencapai Rp2,968 miliar. Ngadiyono berharap nilai kerugian tersebut tidak kembali meningkat hingga akhir tahun.

“Mudah-mudahan tidak terus bertambah sehingga dapat ditekan karena kerugian akibat kebakaran di tahun lalu mencapai Rp3.266.300.000,” kata dia.

Jika dibandingkan dengan kerugian sepanjang 2025, nilai kerugian akibat kebakaran hingga pertengahan September 2026 memang masih lebih rendah. Namun, jumlah kejadian kebakaran sudah jauh lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Pencegahan Kebakaran

Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, mengatakan DPRD berkomitmen membantu Pemkab Gunungkidul meningkatkan sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran kepada masyarakat.

Upaya tersebut mengacu pada Perda No.9/2025 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran yang telah dibahas bersama pada tahun lalu.

“Ini yang menjadi dasar kami untuk menyosialisasikan ke masyarakat berkaitan dengan upaya pencegahan kebakaran di Gunungkidul,” katanya.

Menurut Endang, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran. Salah satunya dengan tidak membakar sampah secara sembarangan karena aktivitas tersebut dapat menjadi pemicu kebakaran lahan di lingkungan.

Selain aktivitas pembakaran sampah, masyarakat juga diminta rutin memeriksa instalasi listrik di rumah. Kewaspadaan terhadap berbagai sumber api, seperti kompor, juga perlu ditingkatkan.

“Kami juga minta mewaspadai barang-barang yang menjadi sumber api seperti kompor dan lainnya, harus dipastikan mati saat meninggalkan rumah,” katanya.

Pemadaman Lebih Sulit

Endang mengatakan kondisi kemarau panjang turut menjadi tantangan dalam proses pemadaman kebakaran di Gunungkidul. Angin yang lebih kencang dapat membuat kobaran api semakin cepat membesar.

Keterbatasan ketersediaan air juga menjadi persoalan dalam penanganan kebakaran. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit.

“Lebih baik mencegah sehingga kasus kebakaran bisa ditekan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|