Kemarau, Pengawasan Depot Air Minum di Prambanan Diperketat

5 hours ago 3

Kemarau, Pengawasan Depot Air Minum di Prambanan Diperketat

Ilustrasi air minum dalam kemasan/Womenshealthmag

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman memperketat pengawasan depot air minum isi ulang (DAMIU) di Kapanewon Prambanan menjelang musim kemarau. Pengawasan dilakukan untuk memastikan keamanan produk air minum isi ulang yang diperkirakan akan semakin dibutuhkan masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Selama Juli 2026, Disperindag Sleman memeriksa lima DAMIU di Kapanewon Prambanan guna memastikan air minum yang beredar memenuhi standar keamanan, higiene, dan sanitasi serta kepatuhan pelaku usaha terhadap ketentuan perizinan.

Kepala Disperindag Sleman, Dwi Wulandari, mengatakan pengawasan dilakukan sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha DAMIU di Kabupaten Sleman.

"Disperindag Kabupaten Sleman akan terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha DAMIU agar seluruh persyaratan dapat dipenuhi. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan usaha, memperkuat perlindungan konsumen, serta meningkatkan daya saing industri air minum olahan di Kabupaten Sleman," kata Wulan dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).

Lima depot yang diperiksa meliputi Banyu Mili dan Nada Tirta di Kalurahan Madurejo, Ash Shofa di Kalurahan Bokoharjo, Dwi Water di Kalurahan Sumberharjo, serta Aghna Tirta Mandiri di Kalurahan Madurejo.

Hasil pengawasan menunjukkan seluruh depot masih beroperasi aktif dengan pelanggan yang beragam, mulai dari rumah tangga, warung makan, warung minuman, reseller, hingga perusahaan swasta. Volume penjualan air minum isi ulang berkisar 20-100 galon per hari.

Depot Banyu Mili tercatat memiliki volume penjualan tertinggi dengan rata-rata sekitar 100 galon per hari karena juga melayani pembelian rutin dari sejumlah perusahaan.

Ketua Tim Kerja Pengawasan dan Pengendalian Industri Disperindag Sleman, Rahmat Wicaksono, mengatakan sebagian besar depot telah memiliki sarana produksi yang memadai, seperti tandon air, tabung filter, filter stainless steel, lampu ultraviolet (UV), ozonizer, mesin reverse osmosis (RO), mesin pencuci galon, hingga tangki penampung air hasil produksi.

"Sebagian besar pelaku usaha telah melakukan penggantian filter secara berkala. Penggunaan teknologi ozonisasi dan reverse osmosis menjadi salah satu upaya pelaku usaha dalam menjaga kualitas air yang dihasilkan," katanya.

Rahmat menjelaskan, empat dari lima depot atau sekitar 80% masih mengandalkan pasokan air baku dari penyedia air curah Tirta Jaya. Sementara satu depot menggunakan air tanah dari sumur bor pribadi sehingga tetap diwajibkan memenuhi izin pemanfaatan air tanah serta melakukan uji kualitas air secara berkala.

Meski kondisi usaha secara umum tergolong baik, tim pengawas masih menemukan sejumlah catatan yang perlu diperbaiki. Penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh pekerja belum optimal selama proses produksi.

Selain itu, beberapa depot masih memiliki tata letak ruang produksi yang perlu dibenahi, seperti area pencucian dan pengisian galon yang terlalu berdekatan, penataan kemasan yang belum rapi, serta ruang produksi yang masih menyatu dengan aktivitas usaha lain.

Pada aspek legalitas, Disperindag juga meminta pelaku usaha melengkapi sejumlah persyaratan administrasi, antara lain penyesuaian KBLI 11052 pada Nomor Induk Berusaha (NIB), verifikasi teknis industri, pembuatan akun Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta izin pemanfaatan air tanah bagi depot yang menggunakan sumur bor.

Disperindag mendorong seluruh pelaku usaha meningkatkan kebersihan lingkungan produksi, memperkuat penerapan higiene dan sanitasi, serta rutin menguji kualitas air untuk mencegah kontaminasi. Langkah tersebut diharapkan dapat menjamin ketersediaan air minum isi ulang yang aman dan berkualitas bagi masyarakat, terutama saat permintaan meningkat pada musim kemarau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|