REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK, – Musim kemarau yang melanda Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mulai berdampak signifikan terhadap produksi dan harga sejumlah komoditas sayuran di pasar tradisional. Pedagang mengeluhkan penurunan pasokan akibat keterbatasan air yang menghambat pertumbuhan tanaman hortikultura.
Pedagang sayur di Pontianak, Alex, menjelaskan bahwa keterbatasan air membuat produksi komoditas hortikultura menurun drastis. Kondisi ini terutama dirasakan pada tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup selama masa pertumbuhan, seperti wortel, mentimun, dan sejumlah sayuran buah.
“Kondisi tersebut terutama dirasakan pada wortel, timun, tahu dan sejumlah sayuran buah yang membutuhkan pasokan air cukup untuk menunjang produksi,” kata Alex di Pontianak, Jumat (14/8).
Kenaikan Harga Akibat Produksi Menurun
Menurut Alex, kenaikan harga paling terasa pada mentimun dan sayuran buah. Berkurangnya ketersediaan air membuat produksi petani menurun sehingga pasokan yang masuk ke pasar ikut berkurang secara otomatis.
“Untuk timun dan sayur-sayuran buah lumayan naik. Harganya naik karena produksi berkurang. Karena tidak ada air, produksinya menjadi lebih sedikit,” ujarnya menjelaskan dinamika di lapangan.
Sejumlah komoditas sayuran lainnya juga mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 akibat terbatasnya pasokan. Salah satu komoditas yang sebelumnya dijual sekitar Rp20.000 per kantong besar kini mencapai Rp25.000.
Meski demikian, kenaikan harga belum terjadi pada seluruh komoditas sayuran. Beberapa jenis masih tersedia dengan harga relatif stabil karena pasokannya masih mencukupi kebutuhan pasar.
Harga Cabai Bervariasi
Untuk komoditas cabai, harga masih bervariasi berdasarkan daerah asal pasokan. Cabai yang didatangkan dari Pulau Jawa berada di kisaran Rp70.000 per kilogram, sedangkan cabai dari Sambas sekitar Rp50.000 per kilogram.
“Kalau cabai rawit lokal sekitar Rp70.000 per kilogram. Sementara cabai lokal yang kita pasok dari Sambas sekitar Rp50.000 per kilogram,” katanya merinci perbedaan harga.
Sementara itu, harga cabai keriting yang sebelumnya sempat tinggi kini mulai mengalami penurunan. Pasokan cabai tersebut berasal dari sejumlah daerah, baik dari wilayah lokal maupun luar Kalimantan Barat, termasuk Pulau Jawa.
Beragamnya sumber pasokan tersebut membantu menjaga ketersediaan komoditas di pasar Pontianak di tengah produksi lokal yang mulai terpengaruh kondisi kemarau.
Langkah Pemerintah Jaga Stabilitas
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi daerah. Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, operasi pasar dan gerakan pangan murah rutin dilaksanakan.
“Dalam rangka pengendalian inflasi daerah, kita selalu melaksanakan operasi pasar dan melakukan gerakan pangan murah secara rutin untuk masyarakat,” ujarnya.
Gerakan pangan murah tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengantisipasi tekanan harga komoditas pangan akibat perubahan produksi dan pasokan selama musim kemarau.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

3 hours ago
3

















































