Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang mahasiswa 23 tahun dikabarkan berhasil melumpuhkan operasional kereta cepat Taiwan High Speed Rail (THSR). Aksi ini dia lakukan hanya dengan bermodalkan perangkat radio.
Media lokal menyebutkan empat kereta, tetapi ada juga laporan yang menyebutkan tiga kereta berhenti. Semua kereta itu berhenti selama 48 menit.
Mahasiswa yang diidentifikasi sebagai Lin melancarkan aksinya dengan membunyikan General Alarm. Biasanya alarm ini diaktifkan oleh staf stasiun dengan peralatan khusus.
Bunyinya alarm ini akan memicu protokol tanggap darurat, termasuk membuat kereta berhenti secara manual.
Untuk melakukan kejahatan itu, Lin bermodalkan sebuah peralatan radio SDR (software-defined radio) yang dibeli di online. Tech Spot mencatat alat itu digunakan untuk menganalisa sinyal THCR, mengunduh data ke komputer, decode parameter TETRA (Terrestrial Trunked Radio).
Dia juga memprogram kode dalam radio genggam yang meniru suar yang sah. Sinyal alarm itu dikirimkan dari rumahnya di Taichung ke pusat kendalai THSRC di Taouyuan.
Pihak kereta cepat menemukan adanya kloning sinyal, karena pemeriksaan tidak menemukan adanya pencurian atau penyalahgunaan radio resmi. Pihak kepolisian melakuka penyelidikan termasuk meninjau rekaman CCTV dan log jaringan TETRA sebelum menemukan pelaku.
Rumah dan tempat kerja Lin digeledah, dan polisi menyita laptop, smartphone, SDR, dan sejumlah radio genggam. Selain itu, ditemukan pula seorang kaki tangan berusia 21 tahun. Dia bertugas memberikan sejumlah parameter THSR dalam serangan tersebut.
Menurut penyelidik, Lin memiliki akses ke frekuensi sejumlah lembaga penting. Bukan hanya THSR, namun juga Dinas Kebakaran kota New Taipei dan jalur MRT Bandara Internasional Taoyuan.
Lin telah dibebaskan dengan jaminan NT$100 ribu (55,3 juta) setelah dinterogasi. Pengacara yang mewakilinya mengklaim transmisi tidak sengaja.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































