Ketika Relasi Menjadi Modal Memasuki Dunia Kerja

1 hour ago 3

Image Hanna Zahrotul Ilmi

Eduaksi | 2026-08-16 09:42:40

Hanna Zahrotul Ilmi – Mahasiswa Universitas Siber Asia

Gambar 1. Ilustrasi networking mahasiswa menuju dunia kerja.

Dulu, ketika membicarakan persiapan memasuki dunia kerja, hal pertama yang mungkin terlintas adalah nilai akademik, ijazah, kemampuan menggunakan komputer, atau pengalaman organisasi. Semua itu memang penting. Namun, perkembangan dunia kerja saat ini menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari apa yang tercantum di dalam CV. Cara seseorang berkomunikasi, membangun hubungan, bekerja sama, dan memperluas relasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan karier.

Perubahan tersebut semakin terasa di era digital. Mahasiswa sekarang dapat mengenal orang dari berbagai daerah bahkan negara tanpa harus bertemu secara langsung. LinkedIn, Instagram, komunitas digital, webinar, seminar, organisasi mahasiswa, hingga grup diskusi dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan profesional. Dunia yang semakin terkoneksi membuat kesempatan untuk mengenal orang baru menjadi lebih terbuka.

Namun, ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah memiliki banyak koneksi berarti kita sudah memiliki networking yang baik?

Menurut saya, jawabannya belum tentu. Networking bukan sekadar memiliki ratusan atau bahkan ribuan pengikut di media sosial. Networking adalah kemampuan membangun hubungan yang memiliki nilai, kepercayaan, komunikasi, dan keberlanjutan. Dalam perspektif Estetika Humanisme, networking seharusnya tidak memandang manusia hanya sebagai “jalan” menuju pekerjaan atau keuntungan tertentu. Di balik setiap koneksi terdapat manusia dengan pengalaman, perasaan, kemampuan, dan cerita yang berbeda.

Karena itu, membangun networking bagi mahasiswa seharusnya bukan hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi juga tentang belajar menjadi manusia yang mampu menghargai manusia lainnya.

Istilah networking terkadang disalahpahami sebagai kegiatan mengumpulkan sebanyak mungkin kontak. Mahasiswa menghadiri seminar, bertukar nomor WhatsApp, mengikuti akun LinkedIn seseorang, lalu merasa sudah membangun jaringan profesional.

Padahal, hubungan tidak otomatis terbentuk hanya karena seseorang berada di daftar kontak kita. Hubungan membutuhkan interaksi. Ada komunikasi, kepedulian, rasa saling percaya, dan kemauan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Seseorang mungkin memiliki sedikit koneksi, tetapi hubungan yang dibangun sangat kuat. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki ribuan pengikut tetapi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan sebagian besar dari mereka.

Inilah yang membuat networking memiliki dimensi humanis. Ketika seorang mahasiswa berkenalan dengan dosen, alumni, teman dari universitas lain, praktisi, atau pelaku industri, hubungan tersebut sebaiknya tidak dimulai dengan pikiran, “Apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini?” Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah, “Apa yang bisa saya pelajari dari orang ini dan apa yang bisa saya berikan melalui hubungan ini?”

Perubahan cara berpikir tersebut sederhana, tetapi memiliki dampak besar.

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat dunia kerja mengalami perubahan yang sangat cepat. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebutkan bahwa hampir 40 persen keterampilan inti yang dibutuhkan dalam pekerjaan diperkirakan akan berubah hingga 2030. Pada saat yang sama, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kolaborasi tetap menjadi kemampuan yang penting.

Di Indonesia, perubahan kebutuhan tenaga kerja juga terlihat dari data ketenagakerjaan terbaru. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pada November 2025 jumlah angkatan kerja mencapai 155,27 juta orang, sementara jumlah penduduk bekerja mencapai 147,91 juta orang. Data tersebut menunjukkan besarnya dan dinamisnya pasar kerja yang harus dimasuki generasi muda.

Hal tersebut memberikan pesan penting kepada mahasiswa. Memiliki kemampuan teknis saja mungkin tidak cukup. Mahasiswa perlu mampu bekerja bersama manusia lain. Mereka perlu mampu mendengarkan, menyampaikan gagasan, memahami sudut pandang yang berbeda, menyelesaikan masalah bersama, serta membangun kepercayaan.

Studi dan kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia juga menempatkan soft skills sebagai bagian penting dari kesiapan kerja. Kajian pada Jurnal Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan menekankan bahwa perubahan industri membuat kebutuhan terhadap soft skills semakin penting, tidak hanya hard skills.

Semakin canggih teknologi bukan berarti manusia semakin tidak membutuhkan manusia lain. Justru sebaliknya. Ketika pekerjaan rutin semakin banyak dibantu teknologi, kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, membangun kepercayaan, dan memahami manusia lain dapat menjadi semakin berharga.

Media sosial memberikan kesempatan yang luar biasa bagi mahasiswa untuk membangun networking. Seorang mahasiswa dapat mengikuti seminar yang diselenggarakan perusahaan, berinteraksi dengan pembicara, mengikuti komunitas sesuai bidangnya, atau berdiskusi dengan profesional yang sebelumnya sulit ditemui.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan membangun hubungan secara instan. Kita dapat mengirim permintaan koneksi hanya dengan satu klik. Kita dapat mengikuti seseorang tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Kita dapat memberikan tanda suka pada sebuah unggahan tanpa membaca isinya. Akibatnya, hubungan digital terkadang menjadi dangkal.

Ada pula kecenderungan sebagian mahasiswa merasa minder ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial. Ketika melihat teman sudah mendapatkan pekerjaan, memenangkan lomba, memiliki banyak sertifikat, atau aktif membangun jaringan profesional, muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal.

Padahal, networking bukan perlombaan. Setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda. Ada mahasiswa yang pandai berbicara di depan banyak orang. Ada yang lebih nyaman membangun hubungan melalui percakapan pribadi. Ada yang aktif mengikuti organisasi. Ada pula yang lebih suka berkontribusi di belakang layar.

Yang terpenting bukan seberapa banyak orang yang mengenal kita, melainkan seberapa bermakna hubungan yang kita bangun dengan orang lain.

Dalam kajian Estetika Humanisme, manusia tidak dapat dipandang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Manusia memiliki nilai, martabat, perasaan, dan kebebasan untuk berkembang.

Dari perspektif tersebut, networking dapat dipahami sebagai salah satu bentuk human literacy, yaitu kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara manusiawi dengan orang lain.

Seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan networking yang baik bukan hanya mahasiswa yang pandai memperkenalkan dirinya. Ia juga mampu mendengarkan. Ia tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga tertarik memahami pengalaman orang lain.

Ia tidak hanya meminta bantuan ketika membutuhkan pekerjaan, tetapi juga bersedia memberikan bantuan ketika memiliki kemampuan atau informasi yang dapat bermanfaat. Ia tidak hanya menghubungi seseorang ketika membutuhkan sesuatu, tetapi mampu menjaga hubungan meskipun tidak sedang memiliki kepentingan tertentu.

Di sinilah networking berubah dari sekadar strategi karier menjadi sebuah proses pembelajaran manusia. Melalui networking, mahasiswa belajar bahwa setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda. Dari seorang alumni, mahasiswa dapat belajar tentang dunia kerja. Dari seorang teman, mahasiswa dapat belajar tentang kerja sama. Dari seorang dosen, mahasiswa dapat memperoleh perspektif akademik. Dari seorang praktisi, mahasiswa dapat mengetahui tantangan nyata di industri.

Hubungan tersebut akhirnya tidak hanya menghasilkan peluang, tetapi juga memperluas cara pandang.

Networking yang baik tidak harus selalu formal. Mahasiswa dapat memulainya dari hal sederhana. Mengikuti kegiatan kampus, aktif dalam organisasi, bergabung dalam komunitas, menghadiri seminar, berdiskusi dengan teman lintas program studi, atau sekadar berani menyapa seseorang setelah sebuah kegiatan dapat menjadi langkah awal.

Di ruang digital, mahasiswa dapat mulai membangun identitas profesional secara sederhana. Misalnya dengan membagikan pengalaman belajar, hasil proyek, kegiatan organisasi, pemikiran mengenai bidang yang diminati, atau pengalaman mengikuti kegiatan tertentu.

Namun, yang harus dijaga adalah keaslian. Tidak perlu menciptakan citra diri yang sempurna. Dunia profesional tidak hanya membutuhkan orang yang terlihat hebat, tetapi juga orang yang dapat dipercaya.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya membangun networking dengan prinsip kenal, percaya, dan berkembang bersama. Kenal berarti membuka diri terhadap orang lain. Percaya berarti menjaga komunikasi dan integritas. Berkembang bersama berarti menjadikan hubungan tersebut sebagai ruang untuk saling belajar dan memberikan manfaat.

Ketika memasuki dunia kerja, jaringan yang telah dibangun selama masa kuliah dapat memberikan banyak manfaat. Informasi mengenai peluang kerja, magang, proyek, pelatihan, atau kolaborasi sering kali diperoleh melalui jaringan sosial dan profesional.

Namun, mahasiswa tidak seharusnya membangun networking hanya ketika membutuhkan pekerjaan. Networking yang dibangun terlalu terlambat akan terasa seperti transaksi.

Sebaliknya, networking yang dibangun sejak mahasiswa dapat berkembang secara alami. Hubungan dengan teman kuliah dapat berubah menjadi hubungan profesional. Teman organisasi dapat menjadi rekan kerja. Dosen dapat menjadi mentor. Alumni dapat menjadi sumber inspirasi. Bahkan orang yang ditemui dalam sebuah seminar dapat menjadi bagian dari perjalanan karier di masa depan.

Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) pada 2024, misalnya, diikuti 47.984 mahasiswa pada angkatan keenam dan telah menarik pendaftar dari ratusan perguruan tinggi. Program seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang bersentuhan dengan dunia kerja dapat menjadi ruang penting untuk membangun kompetensi sekaligus jejaring.

Pada akhirnya, mahasiswa perlu membangun dua hal sekaligus: kompetensi dan koneksi. Kompetensi membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan. Networking membuat kemampuan tersebut lebih mudah ditemukan, dikenali, dan dikembangkan melalui hubungan dengan orang lain.

Pada akhirnya, membangun networking bukan tentang menjadi orang yang paling terkenal atau memiliki koneksi paling banyak. Networking adalah tentang bagaimana seseorang mampu membangun hubungan yang sehat, tulus, dan saling memberikan manfaat.

Bagi mahasiswa, masa kuliah merupakan waktu yang sangat baik untuk mulai membangun jaringan. Tidak perlu menunggu lulus. Tidak perlu menunggu memiliki banyak prestasi. Bahkan tidak perlu menunggu merasa sudah cukup hebat.

Mulailah dari percakapan sederhana. Mulailah dari mendengarkan. Mulailah dari berani mengenal orang baru. Dan yang paling penting, jangan melihat orang lain hanya sebagai peluang.

Dalam perspektif humanisme, manusia bukanlah alat untuk mencapai tujuan. Manusia adalah tujuan itu sendiri.

Karena itu, networking yang paling bermakna bukanlah ketika kita mampu berkata, “Saya mengenal banyak orang,” tetapi ketika kita dapat mengatakan, “Saya memiliki hubungan yang membuat saya dan orang lain sama-sama bertumbuh.”

Di tengah dunia kerja yang semakin terdigitalisasi dan dipengaruhi oleh kecerdasan buatan, kemampuan tersebut justru menjadi semakin penting. Teknologi mungkin dapat mempercepat pekerjaan, tetapi hubungan antarmanusia tetap membutuhkan empati, kepercayaan, komunikasi, dan ketulusan.

Maka, bagi mahasiswa hari ini, membangun networking bukan sekadar mempersiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan. Networking adalah proses belajar menjadi manusia yang mampu hadir, terhubung, dan bertumbuh bersama manusia lainnya.

Almaida, D., dkk. (2024). Upaya Meningkatkan Soft Skill Mahasiswa di Perguruan Tinggi. GARUDA/Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2025. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2025. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Pemuda Indonesia 2025. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2026. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026). Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025. Jakarta: BPS.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Program MSIB Angkatan 6 Kemendikbudristek Siap Hasilkan 40.000 Lebih Talenta Muda Masa Depan. Jakarta.

Nuraeni, Y. (2024). Strategi Pengembangan Kompetensi Soft Skills Tenaga Kerja di Balai Latihan Kerja (BLK). Jurnal Ketenagakerjaan, 18(2).

LinkedIn Talent Solutions. (2025). The Future of Recruiting 2025: How AI redefines recruiting excellence.

World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum.

Sumber Daring

https://www.bps.go.id/id/publication/2026/06/26/96b31cf730df9e84f17bfe03/keadaan-angkatan-kerja-di-indonesia-februari-2026.html

https://www.bps.go.id/id/publication/2026/07/27/8a5986ae0a9e0a1481b50189/analisis-mobilitas-tenaga-kerja-hasil-sakernas-2025.html

https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/12/1a88777089ce471db17bb1fb/statistics-of-indonesian-youth-2025.html

https://internal-portal.kemdikbud.go.id/en/berita/4646-program-msib-angkatan-6-kemendikbudristek-siap-hasilkan-40-0

https://journals.kemnaker.go.id/index.php/naker/article/view/203

https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|