REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jelang Muktamar mendatang mulai menunjukkan dinamika yang cukup hangat.
Munculnya sekitar sembilan nama kandidat yang beredar dinilai sebagai pertanda positif bagi iklim demokrasi dan kesehatan organisasi di tubuh NU.
Pengamat Politik dari Citra Institute, Yusak Farchan, menilai banyaknya figur yang muncul mencerminkan tingginya animo serta dinamika yang sehat di internal jam'iyyah NU.
Menurutnya, Muktamar harus menjadi ruang kompetisi yang mengedepankan kualitas serta integritas calon ketimbang dorongan pragmatis semata.
"Banyaknya kandidat menandai bahwa perkembangan menjelang Muktamar sangat dinamis. Harapannya, terbuka ruang kompetisi yang sehat dengan mengedepankan kualitas calon," ujar Yusak saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Selasa (25/8/2026).
Yusak menyoroti bahwa tantangan NU ke depan tidak hanya terbatas pada tata kelola organisasi di tingkat domestik, melainkan juga harus mampu menjawab kompleksitas serta perubahan geopolitik dan ekonomi global yang bergerak cepat.
Oleh karena itu, sosok Pemimpin PBNU mendatang dituntut memiliki kepiawaian organisasi sekaligus daya jangkau internasional.
Dari deretan nama calon yang beredar, Yusak menilai KH Marsudi Syuhud memiliki posisi dan keunggulan tersendiri yang membuatnya berpeluang besar menjadi 'kuda hitam' dalam bursa Pemilihan Ketum PBNU.
"Posisi Kiai Marsudi sangat lentur dan fleksibel. Beliau bisa masuk dan diterima di semua kelompok maupun faksi yang ada. Selain itu, kelebihan beliau adalah daya jangkau global karena jam terbang serta rekam jejaknya dalam diplomasi internasional yang sangat luas," terang Yusak.
sumber : Antara

3 hours ago
3

















































