REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sedang menikmati posisi tawar geopolitik yang jauh berbeda dibandingkan ketika pertama kali bertemu Donald Trump delapan tahun lalu. Presiden Amerika Serikat (AS) itu ingin bertemu dengannya lagi, Rusia semakin bergantung pada pasokan militer Pyongyang dalam perang Ukraina, sementara China bergerak memperkuat kembali hubungan dengan Korea Utara di tengah semakin eratnya hubungan Kim dengan Moskow.
Perkembangan dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan mengapa perhatian tiga kekuatan besar itu kini tertuju kepada Pyongyang. Reuters pada Senin, 24 Agustus 2026, melaporkan Kementerian Pertahanan Korea Selatan menilai Korea Utara terus melakukan persiapan untuk kemungkinan pengerahan tambahan personel ke Rusia, meski Seoul belum mendeteksi tanda bahwa pengerahan baru akan dilakukan dalam waktu dekat.
Dalam laporan yang sama, Kementerian Pertahanan Korea Selatan memperkirakan Korea Utara telah memasok Rusia lebih dari 15 juta amunisi artileri jika dihitung dalam ekuivalen peluru kaliber 152 milimeter. Pyongyang juga disebut terus memasok sistem persenjataan, termasuk rudal balistik jarak pendek.
Penilaian Badan Intelijen Pertahanan Korea Selatan yang dikutip kantor seorang anggota parlemen juga menyebut rudal-rudal Korea Utara yang digunakan dalam perang Ukraina mungkin mengalami peningkatan akurasi berkat data medan pertempuran, saran teknis Rusia, dan dukungan komponen dari Moskow.
Pada saat hubungan militer Kim dengan Vladimir Putin semakin erat, Trump justru sedang membuka kembali pintu diplomasi dengan Pyongyang. Reuters pada Rabu, 19 Agustus 2026, melaporkan Trump secara terbuka menyatakan berencana bertemu kembali dengan Kim pada tahun ini.
Ketika ditanya apakah ia memperkirakan akan bertemu Kim sebelum akhir tahun, Trump menjawab, “Ya, saya akan bertemu dengannya,” sebagaimana dilaporkan Reuters pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Trump juga kembali menekankan hubungan pribadinya dengan Kim. “Fakta bahwa saya bisa berhubungan baik dengannya adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk,” kata Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters pada hari yang sama.
Pernyataan itu datang setelah Trump memerintahkan pengurangan substansial partisipasi AS dalam latihan militer bersama dengan Korea Selatan. Reuters melaporkan pada Rabu, 19 Agustus 2026, latihan tahunan tersebut dipangkas dari 11 hari menjadi lima hari dan sebagian latihan lapangan juga dikurangi.
Trump sebelumnya menyebut latihan tersebut mengirimkan pesan yang “sepenuhnya tidak pantas dan bermusuhan” kepada Korea Utara, yang menurut dia bersikap “tidak mengancam dan menghormati” AS selama pemerintahannya.
Langkah Trump bahkan mulai menimbulkan pertanyaan di kalangan sekutu AS di Asia. Reuters dalam analisis yang diterbitkan Senin, 24 Agustus 2026, menyebut pendekatan Trump terhadap Kim memperkuat kekhawatiran mengenai reliabilitas komitmen keamanan Washington di kawasan.
“Keputusan itu tentu akan memicu meningkatnya keraguan di kawasan mengenai komitmen keamanan AS,” kata Jeremy Chan, analis senior Eurasia Group dan mantan diplomat AS di Jepang dan China, sebagaimana dikutip Reuters.

1 hour ago
2

















































