Arinafril - Dosen, Pemerhati Pendidikan
Eduaksi | 2026-08-27 06:58:47
NADHIF membuka mata perlahan. Biasanya, sinar matahari pagi yang hangat langsung menyapa jendela kamarnya di Lemabang, Palembang. Tapi hari ini, cahaya yang masuk pucat dan buram. Ia duduk di tempat tidur, mengucek mata, lalu mendekati jendela.
“Bunda Kenapa langitnya putih sekali, tidak biru?” bisiknya.
Asap menyelimuti kota kami. Kami tak lagi melihat birunya langit. (Foto: Dkumentasi Pribadi)
Bunda Nisa sedang melipat baju di sudut kamar. Ia tersenyum sedih. “Itu asap, Nak. Asap dari kebakaran hutan dan lahan di tempat kita. Langit kota kita tidak lagi biru cerah.”
Nadhif mengerutkan kening. Umurnya baru tujuh tahun, kelas 2 Cordova di SDIT Bina Ilmi Lemabang. Ia selalu senang melihat langit biru sebelum berangkat sekolah. Sekarang, langit itu seperti diselimuti kabut tebal yang membuat dada terasa sesak.
Ayah Refa masuk membawa masker. “Ayo, Nadhif. Pakai masker dulu. Sekolah mulai jam delapan, bukan jam tujuh lagi. Pemerintah memundurkan waktu masuk supaya anak-anak tidak terlalu lama terpapar asap.”
Nadhif mengangguk. Ia memakai masker putih yang menutupi hidung dan mulutnya. Di meja makan, Kakek Anang dan Nenek Ine sudah duduk.
“Wah, cucuku sudah siap,” kata Kakek Anang sambil mengelus rambut Nadhif. “Dulu kakek masih kecil, langit Palembang biru sekali. Sekarang tidak lagi. Kita harus menjaga kesehatan.”
Nenek Ine menyodorkan segelas susu hangat. “Minum dulu. Nanti di sekolah jangan lupa cuci tangan dan jangan buka masker sembarangan, ya.”
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Nadhif melihat banyak orang yang terdampak. Pengendara ojek online memakai masker ganda, wajah mereka terlihat lelah. Pedagang asongan di pinggir jalan menutup gerobaknya dengan plastik. Seorang penarik becak batuk-batuk sambil mengayuh. Pedagang emper jalan mengelap matanya yang merah.
“Ayah, mereka tidak punya rumah yang tertutup rapat seperti kita, ya?” tanya Nadhif pelan.
Ayah Refa menghela napas. “Betul, Nak. Banyak warga yang bekerja di luar ruangan. Mereka lebih rentan. Itu sebabnya kita harus peduli.”
DI SEKOLAH, suasana berbeda. Anak-anak masuk kelas dengan masker. Bunda Nenny, wali kelas, menyambut mereka dengan senyum.
“Selamat pagi, anak-anak Cordova. Hari ini kita belajar sambil menjaga kesehatan. Langit kita sedang ‘sakit’ karena asap.”
Teman-teman Nadhif sudah duduk. Emir, Baldad, Fatih, dan Afnan duduk di dekatnya.
“Nadhif, tadi aku lihat pedagang cilok batuk terus,” kata Emir.
“Iya, dan becak di depan rumahku berhenti beroperasi,” tambah Baldad.
Fatih mengangkat tangan. “Bunda Nenny, kenapa ada kebakaran hutan?”
Bunda Nenny menjelaskan dengan suara lembut. “Kadang karena cuaca kering, kadang karena ulah manusia yang membuka lahan dengan cara membakar. Asapnya terbawa angin sampai ke kota kita. Itu membuat udara kotor, mata pedih, dan napas sesak.”
Bunda Aulia masuk membawa poster bergambar pohon dan langit biru. “Hari ini kita buat karya. Gambarlah langit yang kalian impikan. Lalu kita diskusikan apa yang bisa kita lakukan sebagai anak-anak.”
Nadhif menggambar dengan serius. Ia membuat langit biru cerah, matahari kuning, dan banyak pohon hijau. Di bawahnya, ia tulis: “Aku ingin langit biru kembali.”
SAAT istirahat, mereka duduk di kelas karena tidak boleh bermain di luar.
“Aku sedih melihat orang-orang di jalan,” kata Afnan. “Mereka tetap bekerja meski asap tebal.”
Nadhif mengangguk. “Aku juga. Tadi pagi kakek bilang, kita harus jaga bumi. Kalau hutan terbakar, banyak hewan kehilangan rumah, dan udara kita kotor.”
Fatih berkata pelan, “Kalau kita punya masker lebih, bisa dibagikan ke mereka, ya?”
Emir mengangguk. “Tapi kita anak-anak. Lebih baik ceritakan ke orang tua.”
Nadhif tersenyum di balik masker. “Iya. Aku akan bilang ke Bunda dan Ayah nanti.”
Pulang sekolah, Nadhif langsung menceritakan semuanya kepada Bunda Nisa, Ayah Refa, Kakek Anang, dan Nenek Ine.
“Bun, Yah banyak pedagang dan penarik becak yang batuk-batuk. Mereka kerja di luar terus. Teman-teman dan aku sedih. Bisakah kita bantu mereka?”
Bunda Nisa menatap suami dan mertuanya. Ayah Refa mengangguk pelan. “Benar, Nak. Kita bisa beli masker dan bagikan. Tapi kalian tetap di rumah atau dampingi dari jauh, ya. Asap berbahaya.”
Kakek Anang menambahkan, “Kakek dan nenek ikut. Kita beli masker yang bagus, lalu bagikan dengan hati-hati.”
SORE itu, Bunda Nisa dan Ayah Refa pergi ke toko. Mereka membeli banyak masker. Nadhif, Emir, Baldad, Fatih, dan Afnan ikut menemani dari dalam mobil, memakai masker rapat. Bunda Nenny dan Bunda Aulia juga datang membantu setelah dihubungi.
Dengan hati-hati, orang tua dan guru membagikan masker kepada pedagang asongan, penarik becak, dan pengendara ojek di sekitar sekolah dan pasar kecil dekat Lemabang. Seorang pedagang es krim menerima masker dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Bu, Pak. Anak-anak kalian baik sekali sudah mengingatkan. Semoga asap cepat hilang.”
Nadhif melihat dari jendela mobil. Dadanya terasa hangat. Bukan karena asap, tapi karena bisa melihat orang tuanya membantu.
MALAM harinya, keluarga duduk di ruang tamu. Asap masih menutupi langit di luar jendela. Tidak ada bintang yang terlihat.
Nadhif memegang tangan Nenek Ine. “Nek, apa yang bisa anak kecil seperti aku lakukan supaya tidak ada lagi kebakaran hutan?”
Nenek Ine menjawab pelan, “Mulai dari diri sendiri, Nak. Jaga lingkungan di rumah. Ajak teman-teman peduli. Jangan buang sampah sembarangan. Hemat air dan listrik. Doakan juga. Dan nanti kalau sudah besar, jadilah orang yang melindungi hutan, bukan merusaknya.”
Kakek Anang mengangguk. “Langit mungkin sekarang putih pucat, tapi kalau generasi muda seperti kalian peduli, suatu hari langit akan biru lagi. Yang penting, jangan menyerah.”
Nadhif menutup mata dan berdoa dalam hati. “Ya Allah, sembuhkan langit kota kami. Lindungi semua orang yang terdampak asap. Jadikan kami anak-anak yang peduli.”
KEESOKAN harinya di kelas, Bunda Aulia meminta setiap anak menulis surat untuk langit.
Nadhif menulis:
“Dear Langit,
Aku Nadhif. Aku rindu warna birumu. Aku janji akan menjaga bumi. Teman-temanku Emir, Baldad, Fatih, dan Afnan juga. Orang tua kami sudah membantu membagikan masker. Kami tidak bisa memadamkan api besar, tapi kami bisa menyalakan kepedulian kecil. Semoga suatu hari aku bangun, membuka jendela, dan melihatmu biru lagi.
Dari Nadhif, kelas 2 Cordova SDIT Bina Ilmi Lemabang, Palembang.”
Bunda Nenny membacakan beberapa surat di depan kelas. Mata banyak anak berkaca-kaca, termasuk Nadhif.
Di perjalanan pulang, Ayah Refa berkata, “Nadhif, kau tahu? Ide kalian hari ini sudah menginspirasi. Bunda Nenny bilang sekolah akan membuat program ‘Peduli Langit’. Orang tua lain juga ingin ikut membantu.”
Nadhif tersenyum. Ia memandang langit yang masih putih pucat dan penuh asap. Kabut tebal masih menyelimuti kota. Tapi di hatinya, sudah ada secercah biru.
SETIAP pagi setelah itu, Nadhif tetap membuka jendela. Langit masih sama: putih pucat, dipenuhi asap. Tidak ada perubahan. Namun ia tidak lagi hanya sedih. Ia ingat kata kakek, ingat bantuan orang tua, ingat surat yang ia tulis, dan ingat teman-temannya.
Suatu sore, saat duduk di teras bersama keluarga, Nadhif berkata pelan, “Meski langit belum biru, kita tetap bisa menjaga bumi. Benar, kan, Yah?”
Ayah Refa mengelus kepalanya. “Benar sekali, Nak. Kepedulian tidak menunggu langit berubah. Kepedulian justru yang akan mengubahnya.”
Bunda Nisa tersenyum. “Dan kalian anak-anak sudah memulainya.”
Nadhif menatap langit yang masih tertutup kabut asap. Ia tahu, warna biru belum kembali. Tapi di hatinya, dan di hati teman-temannya, harapan itu terus menyala.
Langit di kota mereka masih belum berwarna biru. Tapi cerita kepedulian kecil dari Nadhif, keluarganya, guru-gurunya, dan teman-temannya terus hidup. Karena selama ada anak-anak yang peduli, langit tidak pernah benar-benar kehilangan harapannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
4











































