REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap tahunnya, sebanyak 1,7 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia akibat lingkungan yang tidak sehat, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dari jumlah tersebut, sekitar 570 ribu anak meninggal karena infeksi saluran pernapasan yang dipicu polusi udara.
Lalu 360 ribu anak meninggal disebabkan diare karena kualitas air yang tidak sehat, 270 ribu kematian anak terkait kondisi neonatal seperti kelahiran prematur, 200 ribu kematian akibat cedera tidak disengaja, serta 200 ribu lainnya akibat malaria yang semakin agresif akibat pemanasan global. Dokter spesialis anak sekaligus Anggota Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Dr dr Riyadi, mengatakan anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap lingkungan yang tidak sehat terutama polusi udara. Hal ini karena sistem imun anak belum berkembang secara sempurna sehingga lebih mudah terserang infeksi.
"Anak-anak, yang memiliki sistem imun belum matang dan lebih rentan terhadap infeksi. Aktivitas luar ruangan meningkatkan paparan polusi udara seperti PM2.5 dan PM10, yang dapat melemahkan pertahanan tubuh dan memicu infeksi saluran pernapasan maupun penyakit lainnya," kata dr Riyadi dalam webinar yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia, Selasa (9/6/2026).
Dokter Riyadi mengungkapkan berdasarkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sepanjang 2024 yang diukur dalam mikrogram per meter kubik, polusi udara di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Kota dengan tingkat polusi tertinggi antara lain Tangerang Selatan dengan angka 61,1 mikrogram per meter kubik, disusul Cikarang, Depok, dan Bekasi.
Menurut dr Riyadi, sistem pernapasan menjadi organ yang paling langsung terpapar polusi udara. Paparan polutan dapat meningkatkan sensitisasi alergi, meningkatkan kadar imunoglobulin E (IgE), memicu hiperrespons bronkial, serta memperberat serangan asma.
Selain itu, polusi udara dapat mengganggu perkembangan paru-paru anak, menurunkan fungsi paru, dan mengurangi kemampuan sistem imun dalam melawan mikroba. Dampak klinis yang dapat muncul antara lain eksaserbasi asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), infeksi saluran pernapasan, bronkitis kronik, laringitis kronik, hingga rinitis alergi.
"Paparan polusi udara juga dapat mengganggu barrier atau pertahanan alami saluran pernapasan. Paparan PM10 dan nitrogen oksida yang banyak berasal dari lalu lintas kendaraan berhubungan dengan penurunan fungsi paru serta peningkatan risiko asma dan rinitis," kata dr Riyadi.
Tidak hanya itu, sistem imun anak juga bisa terdampak melalui gangguan keseimbangan sel imun, peningkatan stres oksidatif, serta disfungsi berbagai sel pertahanan tubuh seperti sel T dan makrofag. Polusi udara menyebabkan perubahan polaritas makrofag dengan meningkatkan aktivitas makrofag M1 yang bersifat proinflamasi dan menurunkan aktivitas makrofag M2 yang bersifat antiinflamasi.
"Akibatnya, respons imun menjadi terganggu sehingga individu lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan seperti influenza dan pneumonia, memiliki respons yang lebih rendah terhadap patogen, mengalami durasi penyakit yang lebih panjang, serta penurunan kemampuan tubuh melawan mikroba dan virus," ujar dr Riyadi.

8 hours ago
4















































