Layanan PDAM Kota Jogja Masih 30 Persen, Sanitasi Jadi Tantangan

4 hours ago 3

Layanan PDAM Kota Jogja Masih 30 Persen, Sanitasi Jadi Tantangan

Foto ilustrasi pipa air bersih dari sumber air. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Cakupan layanan air minum perpipaan di Kota Jogja hingga saat ini baru mencapai sekitar 30 persen. Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan penggunaan layanan Perumda PDAM Tirtamarta di tengah kondisi air tanah yang dinilai masih baik oleh masyarakat.

Selain layanan air minum perpipaan, akses sanitasi aman di sejumlah kawasan permukiman juga masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di kawasan bantaran sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja, Umi Akhsanti, mengatakan masih terdapat sekitar 40 hektare kawasan yang belum sepenuhnya terbebas dari persoalan permukiman.

Menurutnya, kawasan tersebut sebenarnya sudah tidak lagi masuk kategori kawasan kumuh karena nilai kekumuhannya telah berada di bawah ambang batas nasional. Meski demikian, sejumlah indikator masih perlu dibenahi.

"Kalau dibilang sudah nol kami belum. Tetapi supaya tidak menjadi kawasan kumuh, skornya sudah di bawah 16. Sekarang yang masih memiliki skor itu tinggal sekitar 40 hektare," katanya, Rabu (22/7/2026).

Umi menjelaskan persoalan yang masih ditemui di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jaringan air minum, tetapi juga akses sanitasi.

"Ada beberapa persoalan, ada sanitasi, ada akses, ada juga air minum. Kalau air minum target kami sebenarnya sudah cukup baik, tetapi yang masih berat itu sanitasi aman," ujarnya.

Menurut Umi, penggunaan air perpipaan di Kota Jogja masih rendah karena sebagian besar warga merasa kebutuhan air sehari-hari telah terpenuhi dari sumur. Air tanah yang relatif mudah diperoleh dan terlihat jernih membuat masyarakat belum terdorong untuk beralih menggunakan layanan PDAM.

"Secara awam masyarakat melihat air di Kota Jogja itu baik. Buka sumur sekitar delapan meter sudah dapat air yang segar dan bersih sehingga mereka merasa aman menggunakan air tanah," katanya.

Padahal, dari sisi kesehatan, air perpipaan memiliki keunggulan karena kualitasnya dipantau secara berkala, termasuk melalui pengujian kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli).

"Satu-satunya yang benar-benar bisa dipastikan sehat itu air PDAM karena setiap waktu dicek kadar E.coli-nya. Itu yang menjadi pekerjaan rumah kami karena cakupannya baru sekitar 30 persen," ujarnya.

Meski demikian, Umi mengakui sebagian besar masyarakat saat ini telah menggunakan air kemasan atau air galon untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Adapun air tanah lebih banyak dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.

"Hampir semua rumah sekarang untuk minum dan memasak sudah memakai air galon. Kalau masyarakat diberi tahu air tanah belum tentu sehat, mereka menjawab untuk konsumsi sudah pakai galon, sedangkan air tanah hanya untuk mandi dan mencuci," katanya.

Menurut Umi, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan minat masyarakat untuk memasang sambungan rumah PDAM masih relatif rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|