Mantan Jubir Gus Dur: NU Harus Perkuat Peran Global di tengah Konflik Dunia  

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID,JOMBANG -- Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sastro Al Ngatawi, menilai Nahdlatul Ulama (NU) perlu terus memperkuat perannya di tingkat internasional. Menurut dia, internasionalisasi gagasan keislaman khas Nusantara merupakan bagian dari khittah perjuangan NU yang telah dirintis para pendirinya.

Sastro mengatakan, salah satu tonggak penting internasionalisasi NU dapat dilihat dari pembentukan Komite Hijaz yang dirintis KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

"Komite Hijaz itu kan sebetulnya internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan tradisi pemikiran Islam yang ada di Nusantara," ujar Sastro saat diwawancarai di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Menurut dia, tradisi internasionalisasi tersebut kemudian diteruskan oleh ulama-ulama NU pada periode berikutnya. Bahkan, sebelum Konferensi Asia-Afrika, telah berlangsung Konferensi Umat Islam Internasional yang menunjukkan keterlibatan ulama Indonesia dalam percaturan dunia.

Namun, Sastro melihat orientasi NU sempat lebih banyak tertuju ke dalam negeri, terutama pada masa kepemimpinan KH Idham Chalid. Internasionalisasi gagasan NU kembali menguat pada era Gus Dur.

Dia menilai Gus Dur menggunakan internasionalisasi gagasan NU sebagai salah satu strategi menghadapi tekanan politik dan marginalisasi pada masa Orde Baru.

"Nah Gus Dur melakukan kesempatan dengan internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan pemikiran NU," ujar dia.

Sastro mengatakan, tantangan sekaligus peluang internasionalisasi NU kini semakin besar seiring perkembangan teknologi informasi dan semakin kaburnya batas-batas antarnegara. Karena itu, menurut dia, gagasan serta tradisi keislaman khas Nusantara perlu terus didiseminasikan ke masyarakat internasional.

Dia menyebut setidaknya ada dua tujuan utama dari langkah tersebut. Pertama, memperkenalkan alternatif wajah Islam kepada masyarakat dunia yang tidak semata-mata bercorak Timur Tengah, simbolik, formal, atau koersif.

"Tetapi ada wajah Islam yang lain, yaitu Islam NU yang ada di Nusantara," kata Sastro.

Kedua, internasionalisasi tersebut dapat memperluas kemaslahatan yang dihasilkan NU. Dengan jangkauan yang semakin global, gagasan dan gerakan NU dinilai dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat dunia.

Sastro menilai momentum untuk memperkuat peran global NU semakin terbuka di tengah situasi geopolitik dunia yang sedang mengalami penataan ulang atau remaking of the world.

"NU harus mengambil peran-peran itu menurut saya," ucapnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|