
Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, KUDUS— Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan pada tahun 2026 meskipun akan mengalami sejumlah penyesuaian skema. Program unggulan ini dinilai masih sangat dibutuhkan oleh mayoritas siswa di Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa sekitar 43,4 juta siswa atau lebih dari 80 persen dari total 53,5 juta peserta didik di Tanah Air menjadi penerima manfaat program tersebut. Tingginya angka ini menunjukkan dukungan kuat agar MBG tetap berjalan.
“Sebagian besar siswa berharap program ini dilanjutkan karena manfaatnya sangat dirasakan,” ujarnya saat kunjungan kerja di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (13/6/2026).
Dalam pelaksanaan ke depan, pemerintah tidak hanya mempertahankan program, tetapi juga melakukan perbaikan agar lebih tepat sasaran. Data penerima MBG kini telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga pemerintah memiliki informasi lengkap dan akurat terkait siswa penerima, mulai dari identitas hingga lokasi sekolah.
Dengan basis data tersebut, penyaluran bantuan akan lebih selektif. Sekolah yang dinilai memiliki tingkat kebutuhan lebih rendah berpotensi tidak lagi menjadi prioritas penerima, sementara sekolah dengan kondisi siswa yang lebih membutuhkan akan diutamakan.
Tak hanya itu, perubahan juga menyasar mekanisme penyediaan makanan. Pemerintah membuka peluang bagi kantin atau dapur sekolah untuk ikut terlibat dalam penyediaan makanan bergizi, tidak hanya bergantung pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Meski demikian, seluruh proses tetap berada di bawah pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN).
Langkah ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas jangkauan program. Selain itu, pelibatan kantin sekolah juga diharapkan mampu memberdayakan ekosistem pendidikan secara lebih luas.
Terkait kasus keracunan yang sempat terjadi di beberapa daerah, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan program secara keseluruhan. Evaluasi akan difokuskan pada dapur atau penyedia makanan yang bermasalah.
“Yang dihentikan adalah dapur yang tidak memenuhi standar. Jika perlu, izinnya dicabut. Namun, penyedia yang sudah baik tetap berjalan,” tegasnya.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam membangun generasi muda Indonesia yang unggul. Tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga kesehatan dan kecukupan gizi siswa.
Dengan asupan gizi yang baik, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh lebih sehat, memiliki daya saing tinggi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































