Meksiko vs Afrika Selatan Ukir Rekor Baru Kartu Merah Piala Dunia

3 hours ago 3

Jumali

Jumali Jum'at, 12 Juni 2026 10:57 WIB

Meksiko vs Afrika Selatan Ukir Rekor Baru Kartu Merah Piala Dunia

Pemain Timnas Afrika Selatan Yaya Sithole saat mendapatkan kartu merah pada laga melawan Meksiko/ AFP

Harianjogja.com, JOGJA—Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan tidak hanya menghadirkan kemenangan 2-0 bagi tuan rumah, tetapi juga mencatatkan rekor baru dalam sejarah turnamen.

Wasit asal Brasil, Wilton Pereira Sampaio, mengeluarkan tiga kartu merah sepanjang pertandingan yang berlangsung di Estadio Azteca. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dalam satu laga pembuka Piala Dunia sejak kompetisi pertama kali digelar.

Tiga pemain harus meninggalkan lapangan lebih cepat akibat pelanggaran yang mereka lakukan. Dua kartu merah diberikan kepada pemain Afrika Selatan, yakni Yaya Sithole pada menit ke-50 dan Themba Zwane pada menit ke-84. Sementara satu kartu merah lainnya diterima bek Meksiko, Cesar Montes, pada menit ke-90+2.

Kartu merah pertama diberikan kepada Sithole setelah melakukan pelanggaran yang menggagalkan peluang emas lawan mencetak gol atau dikenal dengan istilah Denial of an Obvious Goal-Scoring Opportunity (DOGSO).

Saat itu pemain Meksiko, Gutierrez, berhasil lolos menuju area berbahaya. Sebagai pemain terakhir yang berupaya menghentikan serangan, Sithole melakukan pelanggaran yang membuat wasit langsung mengeluarkan kartu merah.

Drama berlanjut pada menit ke-84 ketika tim Video Assistant Referee (VAR) meminta Wilton Sampaio meninjau insiden yang melibatkan Themba Zwane dan pemain Meksiko, Alvarado.

Setelah melihat tayangan ulang, wasit memutuskan mengusir Zwane karena terbukti melakukan tindakan memukul wajah lawan saat bola tidak sedang diperebutkan.

Kartu merah ketiga muncul pada masa tambahan waktu babak kedua. Bek Meksiko, Cesar Montes, dinilai melakukan pelanggaran yang menggagalkan peluang emas Afrika Selatan sehingga kembali masuk kategori DOGSO.

Akibat insiden tersebut, Afrika Selatan menjadi tim pertama yang kehilangan dua pemain dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak duel panas Portugal melawan Belanda pada babak 16 besar Piala Dunia 2006.

Potensi Lampaui Rekor Piala Dunia 2006

Tiga kartu merah dalam satu pertandingan pembuka menjadi sinyal bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu edisi paling keras dalam sejarah.

Dalam catatan enam edisi terakhir, Piala Dunia 2006 masih memegang rekor jumlah kartu merah terbanyak dengan total 28 kartu merah sepanjang turnamen.

Berikut jumlah kartu merah dalam enam edisi Piala Dunia terakhir:

2002: 16 kartu merah
2006: 28 kartu merah
2010: 17 kartu merah
2014: 10 kartu merah
2018: 4 kartu merah
2022: 4 kartu merah

Sebagai perbandingan, total kartu merah sepanjang Piala Dunia 2018 dan 2022 masing-masing hanya empat kartu. Artinya, hanya dalam satu pertandingan pembuka, Piala Dunia 2026 sudah menghasilkan tiga perempat dari jumlah kartu merah yang tercipta pada dua edisi terakhir.

Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta dan jumlah pertandingan yang lebih banyak, peluang terjadinya pelanggaran serta hukuman disiplin juga semakin besar.

Aturan Baru FIFA

Pada Piala Dunia 2026, FIFA juga menerapkan sejumlah perubahan regulasi yang berkaitan dengan disiplin pemain. Salah satunya adalah sanksi tegas terhadap tindakan diskriminatif maupun aksi protes tertentu yang dapat berujung kartu merah langsung.

Selain itu, aturan akumulasi kartu kuning juga mengalami penyesuaian karena penghapusan akumulasi pada fase-fase tertentu turnamen.

Meski harus mengambil beberapa keputusan krusial sepanjang pertandingan, Wilton Pereira Sampaio dinilai mampu mengendalikan laga dengan baik. Dukungan teknologi VAR juga membantu memastikan setiap keputusan penting diambil sesuai ketentuan yang berlaku.

Jika tren pertandingan keras terus berlanjut, bukan tidak mungkin Piala Dunia 2026 akan melampaui catatan kartu merah pada edisi-edisi sebelumnya dan mendekati bahkan melewati rekor 28 kartu merah yang tercipta pada Piala Dunia 2006.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|