Mendiktisaintek Ungkap Motif Fabrikasi Riset demi Travel Grant

4 hours ago 2

Mendiktisaintek Ungkap Motif Fabrikasi Riset demi Travel Grant

Perguruan Tinggi - ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap motif di balik dugaan fabrikasi riset internasional yang melibatkan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Denmark. Berdasarkan temuan awal, praktik tersebut diduga dilakukan untuk memperoleh bantuan dana perjalanan atau travel grant guna mengikuti konferensi internasional.

Brian menegaskan dugaan fabrikasi riset Indonesia tersebut tidak berkaitan dengan pemenuhan Kredit Unit Minimal (KUM) yang biasa menjadi syarat pengembangan karier dosen. Pasalnya, para terduga pelaku bukan berasal dari kalangan dosen sehingga tidak memiliki kewajiban mengumpulkan KUM.

"Jadi, kalau tadi disampaikan apakah ini motifnya karena KUM, itu tidak, karena mereka bukan dosen. Mereka tidak mengumpulkan KUM, tetapi motifnya adalah setelah beberapa hal kami dapati, mereka ingin mendapatkan travel grant," katanya dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Menurut Brian, dalam dunia akademik internasional terdapat berbagai program bantuan yang diberikan oleh lembaga donor maupun penyelenggara konferensi untuk mendukung peneliti dan akademisi menghadiri forum ilmiah.

Program tersebut umumnya ditujukan bagi peneliti muda maupun dosen yang memiliki karya ilmiah dan membutuhkan dukungan pendanaan untuk mengikuti kegiatan akademik di luar negeri. Namun, fasilitas tersebut diduga dimanfaatkan secara tidak semestinya oleh sejumlah oknum.

"Jadi, memang ada beberapa lembaga yang memberikan bantuan untuk dosen-dosen muda menghadiri konferensi internasional peneliti-peneliti muda. Nah ini yang kemudian dimanfaatkan secara tidak bijak oleh oknum-oknum ini," ujarnya.

Mendiktisaintek menilai praktik fabrikasi riset demi memperoleh travel grant tidak hanya melanggar etika akademik, tetapi juga berpotensi merusak reputasi peneliti Indonesia di tingkat internasional.

Pemilik 326 publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus itu menegaskan tindakan tersebut sangat merugikan karena mencederai integritas dunia riset dan mengabaikan kerja keras para akademisi yang selama ini menjalankan penelitian secara profesional.

"Secara etika ini kan mencoreng nama baik peneliti di Indonesia. Kami melihat juga banyak peneliti Indonesia yang sangat kredibel, yang sangat bagus, yang berdedikasi tinggi, tentu namanya menjadi tidak bagus karena hal-hal yang seperti ini," kata dia.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menghadapi kendala dalam penanganan kasus tersebut. Sebab, para terduga pelaku bukan merupakan tenaga pendidik yang berada di bawah mekanisme pembinaan dan sanksi administratif kementerian.

Karena itu, Brian mengatakan pihaknya belum memiliki dasar hukum untuk menjatuhkan sanksi kepegawaian secara langsung kepada para terduga pelaku.

Meski demikian, Kemdiktisaintek saat ini tengah mengkaji berbagai aspek hukum guna membuka kemungkinan penanganan kasus melalui jalur pidana. Langkah tersebut ditempuh sebagai upaya memberikan efek jera sekaligus menjaga kredibilitas ekosistem riset nasional.

"Kami sepakat bahwa ini perlu ada efek jera, dan perlu juga untuk membesarkan hati teman-teman kita peneliti yang memang serius melakukan penelitian, serius menyiapkan bahan dan pergi ke luar negeri," tutur Brian Yuliarto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|