Menghafal tanpa Makna? Saatnya Pembelajaran Taḥfīẓ Bertransformasi

2 hours ago 2

Oleh: Muhammad Fajrin Haikal, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, Di banyak sekolah Islam hari ini, program Taḥfīẓ Alquran telah menjadi simbol kualitas pendidikan. Semakin banyak ayat yang dihafal, semakin tinggi pula prestise lembaga.

Namun, di balik capaian tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah hafalan itu benar-benar 'hidup' dalam diri siswa, atau sekadar angka yang terus bertambah?

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Banyak siswa mampu menghafal ayat dalam waktu relatif singkat, tetapi kesulitan mempertahankannya. Hafalan yang semula lancar perlahan memudar. Lebih dari itu, tidak sedikit siswa yang menjalani Taḥfīẓ sebagai beban akademik, bukan sebagai proses spiritual yang mendekatkan diri kepada Alquran. Padahal, dalam tradisi pendidikan Islam, Taḥfīẓ tidak sekadar aktivitas kognitif, melainkan sarana pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kedalaman ruhani.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal dan praktik di lapangan. Taḥfīẓ seharusnya melahirkan pribadi Qur’ani, tetapi dalam beberapa konteks justru terjebak pada orientasi kuantitas hafalan. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka bukan hanya kualitas hafalan yang menurun, tetapi juga nilai spiritual yang seharusnya menjadi inti dari proses tersebut tidak terinternalisasi secara utuh.

Hasil Penelitian Tesis

Berdasarkan temuan penelitian yang penulis lakukan dalam tesis, di bawah bimbingan Prof. Dr. Edi Suresman, S.Pd., M.Ag. dan Dr. Cucu Surahman, S.Th.I., M.Ag., M.A., persoalan utama dalam pembelajaran Taḥfīẓ tidak hanya terletak pada aspek teknis hafalan, tetapi juga pada lemahnya sistem penguatan memori serta kurangnya dukungan sosial dalam proses belajar.

Banyak siswa lebih berfokus pada penambahan hafalan baru, sementara pemeliharaan hafalan lama belum dilakukan secara sistematis. Di sisi lain, proses pembelajaran yang kurang variatif membuat sebagian siswa mengalami kejenuhan, sehingga berdampak pada menurunnya motivasi dan konsistensi dalam murāja‘ah.

Dalam perspektif psikologi kognitif, fenomena lupa hafalan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Daya ingat manusia secara alami akan menurun jika tidak diperkuat dengan strategi pengulangan yang tepat. Namun, dalam praktik Taḥfīẓ, murāja‘ah sering kali dilakukan tanpa pola yang terstruktur.

Akibatnya, hafalan menjadi rapuh dan mudah hilang. Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih sistematis, yaitu melalui pengulangan berjeda (spaced repetition), yang terbukti mampu memperkuat retensi memori jangka panjang.

Di sisi lain, proses menghafal tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial dan emosional. Tahfiz bukan aktivitas individual semata, melainkan juga proses interaksi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tasmi’ sebaya (peer tasmi’) memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan ketelitian siswa.

Ketika siswa saling memperdengarkan hafalan, mereka tidak hanya berlatih membaca, tetapi juga saling mengoreksi dan memberikan dukungan. Proses ini menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan partisipatif.

Integrasi antara pengulangan berjeda dan tasmi’ sebaya menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pembelajaran Taḥfīẓ. Pengulangan berjeda memperkuat aspek kognitif melalui konsolidasi memori, sementara tasmi’ sebaya menguatkan aspek sosial-afektif melalui interaksi dan dukungan antar siswa. Ketika keduanya dipadukan, pembelajaran tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga lebih bermakna.

Menariknya, pendekatan ini sejatinya tidak bertentangan dengan tradisi pendidikan Islam. Praktik murāja‘ah yang telah lama dikenal dalam dunia Taḥfīẓ mencerminkan prinsip pengulangan, sementara simā‘ān atau tasmi’ berjamaah mencerminkan pembelajaran kolaboratif. Dengan demikian, integrasi pendekatan modern ini dapat dipahami sebagai penguatan terhadap tradisi yang sudah ada, bukan sebagai pengganti.

Lebih jauh, temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan ini berdampak pada penguatan nilai spiritual siswa. Siswa menunjukkan peningkatan dalam kedisiplinan ibadah, tanggung jawab terhadap hafalan, serta sikap yang lebih menghargai Alquran.

Meskipun perubahan ini belum sepenuhnya mencapai tahap karakter yang stabil, namun telah menunjukkan arah internalisasi nilai yang positif. Hal ini menegaskan bahwa Taḥfīẓ yang dirancang secara tepat tidak hanya menghasilkan hafalan yang kuat, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa keberhasilan Taḥfīẓ tidak semata-mata diukur dari jumlah hafalan, melainkan dari kualitas internalisasi nilai-nilai Alquran dalam kehidupan siswa. Pembelajaran yang hanya berorientasi pada target kuantitatif berisiko mengabaikan dimensi rūḥiyyah yang justru menjadi esensi utama.

Oleh karena itu, pembelajaran Taḥfīẓ perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih integratif, yang menggabungkan kekuatan aspek kognitif, sosial, dan spiritual. Guru dan lembaga pendidikan perlu mulai merancang strategi yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan hafalan, tetapi juga mampu menumbuhkan motivasi, keberlanjutan, serta makna dalam proses belajar.

Pada akhirnya, Taḥfīẓ bukan sekadar tentang mengingat ayat, tetapi tentang bagaimana ayat-ayat tersebut membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Hafalan yang sejati bukan hanya yang tersimpan dalam ingatan, tetapi yang hidup dalam jiwa dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|