Harianjogja.com, WASHINGTON—Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menyatakan tengah melakukan investigasi mendalam terkait insiden serangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di wilayah Iran selatan.
Tragedi mematikan tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa 168 siswi dan memicu kecaman keras dari berbagai pihak atas dugaan penargetan fasilitas sipil dalam konflik bersenjata.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi langkah penyelidikan tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat.
Meskipun mengakui adanya laporan mengenai pengeboman Sekolah Perempuan Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, ia menegaskan prinsip operasional militer Amerika Serikat yang diklaim tidak pernah menjadikan lokasi non-militer sebagai sasaran tempur.
"Yang bisa saya katakan adalah kami sedang menyelidikinya," kata Hegseth singkat saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai detail peristiwa berdarah tersebut.
Di sisi lain, otoritas Iran menuding dengan tegas bahwa fasilitas pendidikan tersebut menjadi target utama dalam operasi serangan gabungan antara militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Gubernur setempat, Mohammad Radmehr, memberikan kesaksian memilukan bahwa bom jatuh tepat saat para siswi berusia antara 7 hingga 12 tahun tengah menjalani aktivitas belajar mengajar di dalam kelas.
Daya ledak serangan tersebut mengakibatkan bangunan sekolah hancur lebur dengan material atap beton yang runtuh seketika menimpa ruang-ruang kelas yang penuh dengan murid.
Data yang dirilis media pemerintah Iran menyebutkan angka kematian mencapai 168 jiwa, sementara sedikitnya 95 orang lainnya mengalami luka-luka serius akibat reruntuhan dan efek ledakan.
Hingga saat ini, militer Israel menyatakan tidak memiliki informasi atau catatan mengenai adanya operasi militer yang mereka lakukan maupun bersama AS di wilayah Minab pada waktu kejadian.
Namun, sejarah mencatat bahwa dalam beberapa konflik sebelumnya, pihak Israel sempat membantah keterlibatan dalam insiden fatal tertentu sebelum akhirnya melakukan koreksi setelah ditemukan bukti-bukti tambahan yang tak terbantahkan.
Situasi di perbatasan Iran selatan kini dilaporkan masih sangat tegang menyusul desakan komunitas internasional untuk transparansi penuh atas jatuhnya korban jiwa anak-anak dalam jumlah besar.
Proses identifikasi korban dan pembersihan puing-puing di lokasi kejadian terus berlangsung di tengah kemarahan publik Iran yang menuntut pertanggungjawaban global atas tragedi kemanusiaan di Sekolah Shajareh Tayyebeh tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
















































