MIND ID Dorong Produksi Emas untuk Perkuat Cadangan Devisa Negara

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan pihaknya mendukung penguatan cadangan devisa negara sesuai dengan kebijakan dan ketentuan Bank Indonesia melalui produksi emas di dalam negeri.

“Emas merupakan produksi dalam negeri yang berpotensi menjadi sumber aset strategis yang dapat mendukung penguatan cadangan devisa negara,” ujar Maroef dalam acara MINDialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” yang digelar di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Maroef menyampaikan signifikansi emas semakin kuat. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, lanjut dia, emas juga merupakan salah satu aset yang dapat menjadi bagian dari cadangan internasional bagi bank sentral. Oleh karena itu, sebagai wujud dukungan MIND ID terhadap penguatan cadangan devisa negara, Maroef mendorong peningkatan produksi emas di dalam negeri.

“Di sektor hulu, kami mendorong transformasi proses formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR (Izin Pertambangan Rakyat) melalui harmonisasi regulasi, serta pembinaan teknis bagi pertambangan rakyat,” ucap Maroef.

Dengan formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR, Maroef menargetkan emas yang merupakan hasil dari pertambangan dapat masuk ke rantai pasok formal dan diserap oleh fasilitas pemurnian yang memenuhi standar internasional, seperti London Bullion Market Association atau LBMA.

Untuk industri tahap menengah atau midstream, Maroef menyampaikan kegiatan pengolahan bijih harus diperkuat dengan melibatkan lembaga agregator berbadan hukum resmi.

“Kehadiran agregator ini berfungsi untuk menjamin keterlacakan rantai pasok melalui sistem formal,” ucap Maroef.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS atau relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Posisi Juli tersebut hanya turun tipis sebesar 0,3 miliar dolar AS dibandingkan dengan akhir Juni 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan perkembangan posisi cadangan devisa pada Juli 2026 dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

Di sisi lain, perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh bank sentral Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat.

BI menyampaikan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|