OJK: Kantor Bank BUMN Bertambah, Swasta Kurangi Jaringan Fisik

6 hours ago 4

 Kantor Bank BUMN Bertambah, Swasta Kurangi Jaringan Fisik

Ilustrasi rekening nasabah bank. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Strategi ekspansi industri perbankan Indonesia mulai menunjukkan arah yang berbeda. Saat bank-bank swasta semakin mengandalkan transformasi digital dan mengurangi jumlah kantor fisik, bank-bank milik negara atau BUMN justru memperluas jaringan cabang. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada kuartal I/2026 memperlihatkan pergeseran strategi tersebut, meski total jumlah kantor bank umum secara nasional tetap tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data OJK mencatat jumlah kantor bank umum pada kuartal I/2026 mencapai 3.407 unit, sama seperti posisi kuartal I/2025. Di balik angka yang stabil tersebut, terjadi perubahan komposisi jaringan antar kelompok bank.

Bank BUMN Paling Agresif Menambah Kantor

Bank persero menjadi kelompok yang mencatat pertumbuhan jaringan paling tinggi sepanjang setahun terakhir. Jumlah kantor bank milik negara meningkat menjadi 1.083 unit pada kuartal I/2026 atau naik 12,58% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan 962 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga masih mencatatkan penambahan jaringan meski relatif terbatas. Jumlah kantornya naik 0,44% (YoY) menjadi 686 unit.

Sebaliknya, tren berbeda terjadi pada kelompok bank swasta nasional. Jumlah kantor fisik bank swasta turun 7,02% (YoY), dari 1.737 unit menjadi 1.615 unit.

Penurunan juga dialami kantor cabang bank yang berkedudukan di luar negeri. Jumlahnya menyusut dari 25 unit menjadi 23 unit atau turun 8% secara tahunan.

Digitalisasi Ubah Strategi Bank Swasta

Perubahan tersebut mencerminkan strategi berbeda dalam menjangkau nasabah. Sejumlah bank swasta memilih mengoptimalkan jaringan yang telah dimiliki sembari mempercepat transformasi layanan digital.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), Lani Darmawan, mengatakan perseroan saat ini memiliki 386 kantor cabang, termasuk sejumlah kantor cabang digital maupun hybrid.

Menurutnya, keputusan membuka maupun menutup kantor kini sangat dipengaruhi perubahan perilaku masyarakat yang semakin banyak memanfaatkan layanan digital.

"Kami menutup, merelokasi, dan membuka kantor cabang sesuai kebutuhan nasabah," ujar Lani kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Strategi serupa juga diterapkan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII). Direktur Community Financial Services (CFS) Maybank Indonesia, Bianto Surodjo, mengatakan perkembangan teknologi serta tingginya penggunaan perangkat digital membuat kebutuhan terhadap kantor cabang terus berubah.

Ia menjelaskan perseroan secara berkala mengevaluasi cabang-cabang yang lokasinya berdekatan, terutama di wilayah yang mayoritas masyarakat telah beralih menggunakan layanan digital.

“Untuk itu, dalam spirit selalu berada di tengah nasabah, kami melakukan review terhadap cabang-cabang yang lokasinya berdekatan dan masyarakat sekitarnya memang lebih menyukai menggunakan kanal digital daripada cabang,” jelas Bianto kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Kantor Cabang Masih Berperan Menghimpun Dana

Meski digitalisasi terus berkembang, keberadaan kantor cabang dinilai belum kehilangan perannya dalam mendukung pertumbuhan bisnis perbankan.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, mengatakan setiap bank memiliki strategi berbeda sesuai target bisnis masing-masing. Penambahan jaringan kantor masih dinilai dapat membantu meningkatkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Namun, menurutnya, efektivitas strategi tersebut kini harus diimbangi dengan penguatan layanan digital agar mampu menjangkau lebih banyak nasabah.

“Untuk penghimpunan DPK, di samping penambahan cabang, penguatan fungsi digitalisasi juga memegang peranan sehingga dapat memperluas inklusi perbankan,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Trioksa menilai persaingan memperebutkan dana masyarakat akan semakin ketat, terutama ketika suku bunga meningkat dan bank berlomba menawarkan produk simpanan yang lebih kompetitif.

Dalam kondisi tersebut, kombinasi antara jaringan kantor fisik dan layanan digital menjadi strategi yang saling melengkapi. Kantor cabang masih memiliki keunggulan di daerah yang masyarakatnya mengandalkan pelayanan tatap muka atau wilayah dengan infrastruktur digital yang belum optimal.

Sebaliknya, layanan digital menjadi pilihan utama di kawasan perkotaan, khususnya kota-kota besar, karena lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan transaksi.

“Jadi, terlepas dari segmen, kantor fisik masih dibutuhkan untuk di daerah yang karakteristik masyarakat masih mengandalkan layanan fisik dan jaringan juga belum optimal sementara perbankan digital memegang peranan di daerah perkotaan khususnya kota besar,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|