Sistem pertahanan udara Israel mencegat proyektil di Israel utara, seperti yang terlihat dari Galilea Atas di Israel utara, 11 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Serangan roket besar yang diluncurkan Hezbollah Lebanon pada Rabu (12/3/2026) malam yang melampaui 100 roket ke arah utara Israel, menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan militer partai tersebut dan implikasi eskalasi ini terhadap konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut sejak 12 hari lalu.
Serangan roket tersebut terjadi beberapa jam setelah serangan intensif Israel yang menargetkan sebagian besar desa di selatan Lebanon, serta serangan yang menargetkan wilayah luas di pinggiran selatan Beirut.
Ini di tengah peringatan Israel untuk mengungsi dalam jarak 19 kilometer persegi dari total luas 22 kilometer persegi pinggiran kota tersebut.
Pakar militer Brigadir Jenderal Elias Hanna, dilansir Aljazeeera, Kamis (12/3/2026), berpendapat bahwa peluncuran lebih dari 100 rudal dalam satu hari memiliki implikasi militer yang penting.
Hal ini karena menunjukkan bahwa Hizbullah masih memiliki infrastruktur logistik dan persediaan rudal yang memungkinkannya untuk melanjutkan operasi meskipun perang terus berlanjut.
Hanna menjelaskan— dalam analisisnya tentang situasi militer di Lebanon— bahwa perkiraan Israel sendiri Hizbullah masih memiliki sekitar 20 persen kemampuan militernya yang berarti bahwa mereka masih memiliki rudal jarak pendek seperti Katyusha.
Selain itu, Hizbullah juga memiliki rudal lain yang mampu mencapai wilayah dalam Israel, seperti rudal "Imad 1, 2, dan 3, yang terlihat dalam serangan terakhir.

3 hours ago
1















































