Operasi Barbarossa VS Rasputitsa dan Pertahanan Indonesia

1 hour ago 2

Oleh: Mayjen TNI (purn) Daniel Ambat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hitler menandatangani Führer Directive No. 21, sebuah dokumen rencana Jerman meruntuhkan Uni Soviet, pada 18 Desember 1940. Sejak itu, Pakta Hitler-Stalin yang disepakati setahun lalu, pada 23 Agustus 1939, segera menjadi sampah. Pakta Hitler dan Stalin setahun lalu, yang menyebutkan bahwa Jerman dan Soviet tak akan saling menyerang selama 10 tahun, dilanggar oleh Hitler.

Hanya dalam enam bulan sejak menandatangani Führer Directive 21, Hitler memulai Operasi Barbarossa. Pada 22 Juni 1941 itu, Jerman menyerbu Soviet. Indonesia belum menjadi negara, saat operasi itu berlangsung. Namun operasi Barbarossa memberi banyak pelajaran penting bagi kita, Bangsa Indonesia.

Blitzkrieg dan Rantai Pasok

Melalui perang kilat (Blitzkrieg), Wehrmacht, pasukan Jerman, mengepung Soviet. Sebelum Tentara Merah Soviet mundur ke pedalaman Rusia yang sangat luas, pasukan Jerman memotong jalur mundur pasukan Soviet itu.

Wehrmacht menyerang Soviet dengan strategi “tiga mesin perang Wehrmacht”. Pertama, Grup Angkatan Darat Utara ditugaskan membungkam Leningrad. Kedua, Grup Angkatan Darat Tengah yang menusuk langsung ke jantung politik di Moskow. Ketiga, Grup Angkatan Darat Selatan mencaplok wilayah lumbung pangan Ukraina.

Pada serangan awal, pasukan Jerman bisa menikmati kesuksesan semu yang luar biasa. Melalui taktik perang kilat (Blitzkrieg), Divisi lapis baja Panzer Nazi merobek garis pertahanan Soviet. Sehingga membuat ribuan Tentara Merah terjebak dalam kantung-kantung pengepungan raksasa.

Garis komando Tentara Merah lumpuh total karena Joseph Stalin dikabarkan sempat syok. Ia tak mempercayai laporan serangan tersebut. Meski kondisi pangkalan udara Soviet sudah hancur, dan ribuan tank Soviet rontok. Kondisi yang menyiratkan kacaunya koordinasi, akibat terdadak.

Sambil mundur, pasukan Soviet terpaksa menerapkan strategi "bumi hangus": membakar seluruh desa, panen, dan pabrik, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Tentara Merah pun sibuk memindahkan seluruh industri militer mereka ke balik Pegunungan Ural, menggunakan kereta api. Sebuah mobilisasi darurat yang menguras energi luar biasa.

Jutaan warga sipil Soviet menjadi korban maut. Jumlahnya jauh melampaui korban militer. Sesuai dengan karakter perang itu sendiri, yang dinyatakan sebagai Vernichtungskrieg atau "Perang Pemusnahan".

Namun, euforia keberhasilan Jerman, segera berganti menjadi mimpi buruk logistik. Para prajurit Hitler harus menghadapi kenyataan bahwa kondisi infrastruktur Rusia sangat buruk. Alias tak mendukung serangan Jerman. Seburuk apa kondisi infrastruktur Soviet? Orang Rusia manamakan kondisi itu sebagai rasputitsa.

Dalam bahasa Rusia, kata ini berarti "musim tanpa jalan". “Musim” ini minimal terjadi dua kali dalam setahun, saat salju mencair pada musim semi dan saat hujan deras turun pada musim gugur. Dan rasputitsa musim gugur 1941, mulai melumpuhkan pergerakan Jerman pada awal Oktober. Yakni tepat saat Grup Angkatan Darat Tengah (Army Group Center) sedang bergerak menuju Moskow lewat wilayah sekitar Vyazma dan Bryansk, dalam rangka Operasi Typhoon.

Hal ini bukan kebetulan geografis semata. Menurut Imperial War Museum, pada 1941 hanya ada empat jalan beraspal di wilayah barat Soviet, yang tahan segala cuaca. Sisanya, adalah jalan tanah yang memang hanya layak dilalui saat musim kering. Begitu hujan turun, koresponden perang Soviet, Vasily Grossman menyebutnya: “jalan-jalan itu berubah menjadi rawa cair tanpa dasar, yang diaduk oleh ribuan sepatu bot, roda, dan rantai kendaraan lapis baja.”

Lautan lumpur tebal itu juga yang melumpuhkan rantai roda panser Jerman. Yang paling terdampak adalah Panzer III dan Panzer IV, dua tank medium andalan Jerman saat itu. Rantai (track) pada kedua jenis tank itu, relatif sempit dibanding tank Soviet T-34. Sehingga rantai panser Jerman bolak-balik terjebak rasputitsa, dan tanknya terperosok ke lumpur tebal itu.

Beda dengan tank Soviet T-34 yang rantainya berpenampang lebar, aman saja melintas di tengah rasputitsa. Sebab, makin lebar penampang rantai, makin menghasilkan tekanan lebih rendah ke tanah (ground pressure). Sehingga jauh lebih mampu melintasi tanah lunak tanpa terperosok.

Perbedaan desain inilah yang membuat perwira Jerman seperti Jenderal Heinz Guderian, setelah memeriksa T-34 hasil tangkapan pada November 1941, langsung menuntut agar tank Jerman berikutnya dirancang ulang dengan rantai lebih lebar. Tuntutan yang kelak melahirkan tank Panther Jerman.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|