REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Gaya hidup mewah penguasa dan beban pajak yang mencekik rakyat, apakah ada hubungannya?
Ibnu Khaldun cendekiawan Muslim dari abad ke-14 telah menjelaskan jika beban dan kewajiban pajak yang ditanggung rakyat jumlahnya sedikit, maka rakyat akan semangat dan senang dalam bekerja. Sebab pajak yang rendah membawa kepuasan hati bagi rakyat.
Ketika rakyat semakin produktif dalam bekerja, maka pajak yang dibayar rakyat pun akan bertambah.
Akan tetapi, menurut Ibnu Khaldun bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi ini, ketika para penguasa negara melanggengkan kekuasaannya, kondisi ini akan membuat mereka lebih pengalaman dalam menikmati kenikmatan duniawi.
Maka sifat para penguasa yang awalnya bersahaja dan menahan diri akan lenyap secara perlahan hingga lenyap seluruhnya.
Akibat gaya hidup mewah penguasa yang telah menjadi kebiasaan, selanjutnya mendorong pada munculnya tirani dan sofistikasi. Kebiasaan dan kebutuhan mereka semakin beragam, karena mereka sudah tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan.
"Akibatnya, kewajiban dan pembebanan pajak atas rakyat, buruh tani, dan seluruh pembayar pajak, meningkat," tulis Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah yang diterjemahkan Ahmadie Thoha terbitan Pustaka Firdaus, 1986.
Setiap kewajiban dan pembebanan pajak atas individu benar-benar meningkat tinggi, dengan tujuan agar negara dapat memperbanyak pendapatan pajak. Penguasa negara menerapkan cukai pada perjanjian jual beli dan di pintu gerbang kota.

2 hours ago
1














































