Pemandangan hotel Serena yang menjadi tuan rumah putaran terakhir perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, di Islamabad, Pakistan, 20 April 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA— Pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai pembatalan kunjungan delegasi negaranya ke ibu kota Pakistan, Islamabad, kembali mengacaukan dinamika hubungan yang tegang dengan Iran.
Ini sekaligus mengungkap besarnya perbedaan narasi dan penilaian di antara pihak-pihak yang terlibat di saat jalur perang dan negosiasi saling tumpang tindih, serta keraguan semakin meningkat mengenai kelayakan jalur diplomatik apa pun pada tahap saat ini.
Dilansir Aljazeera, Ahad (26/4/2026), pakar studi Timur Tengah Hassan Jamoul memberikan gambaran umum yang mencerminkan kebuntuan yang menguasai situasi, menggambarkannya sebagai keadaan bukan perang, bukan damai, bukan negosiasi, dan bukan kesepakatan..
Dia mencatat keadaan ini tampaknya menjadi satu-satunya hal yang disetujui semua pihak, di samping berlanjutnya tindakan eskalasi tidak langsung seperti penahanan kapal secara timbal balik.
Jamoul mempertanyakan alasan kegagalan putaran kedua pembicaraan, serta bagaimana kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berubah dari rangkaian diplomasi menjadi tahap di mana tanggapan yang diberikan digambarkan Washington sebagai "tidak ada apa-apa".
Dia juga mempertanyakan sumber keyakinan sebelumnya diungkapkan Trump mengenai harapannya akan tawaran Iran yang memenuhi tuntutan Amerika, sebelum dia kembali menegaskan bahwa dia tidak tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas keputusan di dalam Iran.
Dalam konteks ini, Duta Besar Joe Hood, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS, mengajukan dua penjelasan kemungkinan atas apa yang terjadi, berdasarkan pengalamannya di bidang diplomasi.

3 hours ago
1














































