REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Seorang balita berusia empat tahun syahid bersama dua warga Palestina lainnya akibat serangan udara Israel di Gaza tengah pada Ahad(23/8/2026). Peristiwa ini terjadi setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam akan meningkatkan serangan dengan dalih penerbangan layang-layang kertas dari wilayah yang terisolasi perang tersebut.
Pada Ahad, militer penjajah melepaskan rudal ke sebuah gudang di az-Zawayda hingga hancur menjadi puing-puing, lalu melanjutkan serangan di dekat Jalan Salah al-Din yang menewaskan Muhammad Abdel Salam Taha (4 tahun).
Serangan drone Israel juga menyasar wilayah selatan Khan Younis serta tenda pengungsian di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah, memicu korban jiwa tambahan.
Berdiri di tengah reruntuhan di az-Zawayda, seorang saksi mata bernama Abu Ahmed mengungkapkan keputusasaan warga atas kekerasan yang tak kunjung usai. "Tidak ada gencatan senjata; tidak ada apa-apa. Kami ingin solusi; kami ingin hidup damai,"kata dia seperti dilansir dari laman Al Jazeera.
Pemboman maut ini berlangsung saat para pengamat isu Palestina dan Israel memperingatkan bahwa pemerintah Israel sengaja memfabrikasi krisis keamanan berkedok mainan anak-anak. Tujuannya adalah menggagalkan kesepakatan gencatan senjata, memaksakan perubahan demografi, serta menjamin kelangsungan politik Netanyahu.
Pascaserangan, Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz merilis pernyataan bersama pada Ahad yang mengancam akan membalas keras tindakan tersebut. Mereka juga mengancam akan mengusir paksa warga Palestina dari wilayah yang "dijadikan tempat peluncuran layang-layang, drone, dan balon."
"Tidak akan ada pengembalian situasi seperti sebelum 7 Oktober [2023]," demikian isi pernyataan bersama tersebut, sembari menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan Hamas atau kelompok mana pun di Gaza "kembali mengancam komunitas kami dan mengganggu rasa aman warga kami."
Serangan tetap dilancarkan meski militer Israel sendiri mengakui bahwa layang-layang yang ditemukan tidak menyertakan bahan peledak dan hanya dimainkan oleh anak-anak. Kendati pernyataan bersama menyebutkan "drone dan balon", pemeriksaan militer mengonfirmasi hanya menemukan 10 layang-layang kertas—seluruhnya bebas dari bahan peledak dan diterbangkan anak-anak di kamp pengungsian.

1 hour ago
2
















































