Pelatihan Aksara Jawa Warnai Muktamar NU ke-35 di Jombang

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG — Pelatihan '6 Jam Lancar Baca Tulis Aksara Jawa' bersama pencetus metode Carangapak, K. Akhmad Fikri AF, turut mewarnai momentum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Pelatihan digelar di dua lokasi, yakni Aula Pondok Pesantren Al-Fatich Tambakberas pada Jumat (28/8/2026) dan SMA Madinatul Ulum Tembelang pada Ahad (30/8/2026).

Kegiatan diselenggarakan Pondok Pesantren Yayasan Bina Aksara Mulya (YBAM) Yogyakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Fatich dan Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang, dengan dukungan PT PPA (Persero). Peserta terdiri atas guru MGMP Bahasa Jawa tingkat MI/SD, MTs/SMP, serta MA/SMA/SMK se-Kabupaten Jombang.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan tersebut membawa pesan kebudayaan dengan menjadikan momentum Muktamar NU sebagai ruang syi’ar peradaban untuk menghidupkan kembali aksara-aksara Nusantara.

Slogan yang diusung adalah 'Dari Muktamar Nahdlatul Ulama Tambakberas, Jombang, Aksara Nusantara Bangkit dan Berkembang.'

Akhmad Fikri mengatakan Muktamar NU merupakan momentum strategis karena mempertemukan pengurus dan warga NU dari berbagai wilayah Nusantara.

"Muktamar adalah momentum tertinggi NU. Di dalamnya menghadirkan Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang dan warga NU dari seluruh wilayah Nusantara. Maka momentum ini sangat strategis sebagai ruang syi’ar peradaban," katanya.

Menurutnya, berbagai aksara Nusantara telah digunakan masyarakat selama ratusan bahkan ribuan tahun sebelum penggunaan huruf Latin meluas.

"Aksara-aksara Nusantara ini sudah digunakan sejak ratusan bahkan ribuan tahun, baik oleh pemerintah kerajaan sebagai aksara resmi maupun masyarakat sebagai alat komunikasi dan dokumentasi. Sayangnya, ditinggalkan sejak hadirnya kebijakan penggunaan huruf Latin pada masa kolonial," ujarnya.

Ia juga mengaitkan Aksara Jawa Carakan dengan strategi kebudayaan dalam dakwah Islam di tanah Jawa. Menurutnya, tradisi aksara yang telah berkembang sebelumnya, termasuk Kawi, menjadi bagian dari konteks kebudayaan yang memungkinkan dakwah Walisongo diterima masyarakat tanpa benturan frontal.

"Melestarikan dan menggunakan Aksara Jawa dan Aksara Nusantara lainnya pada hakikatnya sama dengan menjaga spirit keislaman para wali di tanah Jawa sekaligus spirit Islam Nusantara," ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatich, Ny. Hj. Nidaus Sa’adah, menilai keterkaitan antara Aksara Jawa dan NU merupakan hal yang unik dan menarik. "Secara historis ternyata sangat nyambung. Lahirnya Nahdlatul Ulama tidak lepas dari upaya melanjutkan misi dakwah Walisongo, termasuk strategi kebudayaan yang dikembangkan para ulama dan kiai NU," ujarnya.

Ia menilai Aksara Jawa tidak sekadar persoalan huruf, tetapi juga menyimpan sejarah dakwah, strategi kebudayaan, peran pesantren, dan jejak peradaban Islam Nusantara.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Jombang, Dr Mamik Rosita menyebut pelatihan tersebut penting bagi guru karena metode yang tepat dapat membuat pembelajaran Aksara Jawa lebih mudah dan menarik bagi siswa.

Metode Carangapak dirancang untuk memudahkan pembelajaran baca-tulis Aksara Jawa dalam waktu relatif singkat. Pelatihan juga mengenalkan pemanfaatan Aksara Jawa pada perangkat dan platform digital. Akhmad Fikri menegaskan, Aksara Jawa tidak harus dibatasi untuk menulis Bahasa Jawa.

"Aksara Jawa bisa digunakan untuk menuliskan bahasa apa saja, seperti Bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan bahasa lainnya. Bahkan di platform digital saat ini mulai dapat dilihat perkembangannya," katanya.

Dari Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, para penggagas berharap lahir gerakan yang lebih luas untuk menghidupkan kembali aksara-aksara Nusantara melalui pendidikan, pesantren, komunitas, dan ruang digital. 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|