Pemerintah Perkuat Intervensi untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan

7 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas harga pangan dari tingkat produsen hingga konsumen. Langkah ini dilakukan untuk melindungi petani, menjaga pasokan, dan memastikan keterjangkauan bagi masyarakat, serta mengendalikan inflasi. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Jakarta, Senin (4/5).

Menurut Amran, harga pangan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi relatif stabil. Dia menyatakan bahwa upaya untuk menjaga stabilitas harga pangan akan terus dimaksimalkan, termasuk menghadapi Hari Raya Idul Adha tahun ini.

"Mimpi kita adalah swasembada pangan, protein, energi, dan etanol di seluruh pulau Indonesia. Pertahanan negara yang baik tercapai jika kita berdaulat pangan di setiap pulau," ujarnya. Amran juga menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi di April 2026 akan diantisipasi dengan memastikan harga di tingkat produsen tidak jatuh terlalu jauh, sementara harga di tingkat konsumen tetap terjaga.

Harga Ayam dan Telur Terus Menurun

Bapanas mencatat bahwa rata-rata harga ayam pedaging hidup sudah berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen sebesar Rp25.000 per kilogram (kg). Per 3 Mei, harga rata-rata mencapai Rp23.401 per kg, turun dari awal April yang sebesar Rp23.696 per kg. Harga telur ayam ras juga turun, dengan HAP produsen ditetapkan di Rp26.500 per kg, sementara harga per 3 Mei mencapai Rp24.890 per kg, menurun dari Rp25.642 per kg pada awal April.

Program Stabilisasi dan Distribusi Pangan

Untuk menekan biaya produksi peternak, Bapanas bersama Perum Bulog memulai Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Program ini menyasar lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi, dengan target penyaluran 213,1 ribu ton. Di sektor cabai, Bapanas mendorong Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menyalurkan stok cabai dari daerah surplus ke daerah yang mengalami fluktuasi harga, terutama di Indonesia Timur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi di April 2026 untuk sejumlah komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau lebih rendah setelah Lebaran, seiring normalisasi permintaan.

Secara bulanan, daging ayam ras mengalami deflasi 6,20 persen di April, sementara telur ayam ras turun 4,29 persen. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami deflasi 14,98 persen dan 2,59 persen. Inflasi pangan bulanan terjadi deflasi 0,88 persen, dengan catatan deflasi April 2026 menjadi yang terdalam sejak 2024.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|