Pemkab Gunungkidul Fokus Entas Kemiskinan di 7 Wilayah Ini

3 hours ago 9

Pemkab Gunungkidul Fokus Entas Kemiskinan di 7 Wilayah Ini

Foto ilustrasi warga miskin di Indonesia dibuat menggunakan Artifical Intelligence ChatGPT.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul memfokuskan upaya pengentasan kemiskinan di tujuh kapanewon yang selama ini menjadi kantong kemiskinan. Langkah tersebut ditempuh melalui sinkronisasi program dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY agar penanganan berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Gunungkidul, Joko Parwoto, mengatakan koordinasi dengan Pemda DIY telah dilakukan untuk menyelaraskan berbagai kebijakan dan program pengentasan kemiskinan yang dijalankan di daerah.

Menurutnya, sinergi antarpemerintah diperlukan agar intervensi yang diberikan kepada masyarakat miskin tidak tumpang tindih serta mampu memberikan dampak yang lebih optimal.

“Koordinasi telah dilakukan bersama Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk menyelaraskan kebijakan, menetapkan prioritas program, dan memperkuat sinergi agar intervensi berjalan terpadu,” kata Joko kepada Harian Jogja, Jumat (7/8/2026).

Joko menjelaskan, terdapat tujuh kapanewon yang menjadi fokus utama penanganan kemiskinan di Gunungkidul. Wilayah tersebut meliputi Kapanewon Tepus, Rongkop, Ponjong, Semin, Gedangsari, Playen, dan Saptosari.

Pemilihan wilayah prioritas tersebut didasarkan pada kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kebutuhan percepatan pembangunan yang masih memerlukan perhatian khusus dari pemerintah.

“Untuk Gunungkidul yang jadi prioritas ada di Kapanewon Tepus, Rongkop, Ponjong, Semin, Gedangsari, Playen, dan Saptosari,” ujarnya.

Wakil Bupati Gunungkidul itu menegaskan strategi pengentasan kemiskinan tidak hanya dilakukan melalui penyaluran bantuan sosial. Pemkab juga berupaya mengatasi akar persoalan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan sektor pertanian dan pariwisata, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong penciptaan lapangan kerja baru, pengembangan potensi lokal, serta dukungan bagi masyarakat yang ingin membangun usaha mandiri.

“Tujuannya agar kesejahteraan meningkat sehingga warga yang masuk kategori miskin dapat dikurangi secara signifikan,” kata Joko.

Tak hanya berfokus pada aspek ekonomi, Pemkab Gunungkidul juga menjalankan berbagai program peningkatan kualitas hidup keluarga prasejahtera. Program tersebut mencakup perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), penyediaan akses sanitasi yang layak, pembangunan sarana air bersih, hingga penguatan akses pendidikan dan layanan kesehatan.

Menurut Joko, pendekatan terpadu menjadi kunci agar upaya pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

“Upaya pengentasan harus dilakukan secara terpadu, berbasis data yang akurat serta melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan harapan penurunan kemiskinan berlangsung lebih cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” katanya.

Pemkab Gunungkidul menargetkan angka kemiskinan dapat ditekan hingga mencapai 13 persen pada tahun ini. Bahkan, apabila memungkinkan, capaian tersebut diharapkan bisa lebih rendah hingga menyentuh angka 12,5 persen.

“Target kita bisa turun menjadi 13 persen, tapi kalau jadi 12,5 persen maka akan lebih baik lagi,” ujarnya.

Meski mengakui target tersebut tidak mudah dicapai, Joko optimistis berbagai program yang telah disiapkan mampu mempercepat penurunan angka kemiskinan di Bumi Handayani.

Optimisme itu didasarkan pada tren penurunan angka kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Gunungkidul tercatat sebesar 15,18 persen pada 2024 dan berhasil turun menjadi 14,15 persen pada 2025.

“Pasti dengan semangat dan kerja keras, yang diimbangi dengan program yang telah dipersiapkan, maka upaya penurunan angka kemiskinan di Gunungkidul bisa dimaksimalkan,” kata Joko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|