Pesantren Pertanian Darul Fallah: Cetak Santri Penjaga Ketahanan Pangan

7 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional dan semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, Pesantren Pertanian Darul Fallah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memilih jalan berbeda. Lembaga pendidikan Islam ini memadukan pendidikan agama dengan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan sebagai bagian dari kurikulum untuk mencetak santri yang mandiri sekaligus mampu berkontribusi menjaga ketahanan pangan.

Pesantren yang berlokasi di Kampung Lemahdhuhur, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor itu mengembangkan model pendidikan berbasis praktik. Santri tidak hanya belajar di ruang kelas dan masjid, tetapi juga turun langsung ke ladang, kebun, kandang, hingga unit-unit usaha pertanian.

Wakil Pimpinan Pesantren Bidang Pendidikan, Ustadz Iman Tohaga mengatakan, pemilihan pertanian sebagai identitas pesantren merupakan amanat para pendiri yang menginginkan pendidikan agama yakni dakwah berjalan seiring dengan wirausaha.

"Indonesia merupakan negara agraris. Karena itu pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di masjid atau ruang kelas, tetapi juga harus turun ke lahan. Santri tidak hanya memperoleh ilmu agama, tetapi juga keterampilan hidup yang dapat diterapkan di tengah masyarakat," kata Ustadz Iman saat berbincang dengan Republika.co.id di Pesantren Pertanian Darul Falah, Selasa (4/8/2026)

Menurut dia, Pesantren Pertanian Darul Fallah mengembangkan kurikulum terpadu yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan pertanian, perkebunan, dan peternakan melalui pembelajaran berbasis kompetensi dan praktik langsung.

Ustadz Iman menjelaskan, secara filosofis santri perlu memahami pertanian karena sektor pangan merupakan salah satu penyangga utama kehidupan bangsa. Melalui pendidikan tersebut, pesantren ingin melahirkan generasi yang memiliki kemampuan dakwah sekaligus mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat.

Untuk mencapai tujuan itu, Pesantren Pertanian Darul Fallah membangun tiga karakter utama santri. Pertama, fikriyah syakhsiyah, yaitu membentuk kemampuan berpikir, wawasan, dan kompetensi agar santri mampu bersaing di tengah masyarakat.

Kedua, ruhiyah syakhsiyah, yakni memperkuat spiritualitas melalui pendalaman ilmu-ilmu agama sehingga santri siap menjadi dai ketika kembali ke tengah masyarakat. Ketiga, amaliyah syakhsiyah, yaitu membekali santri dengan keterampilan praktis melalui kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai program kemandirian lainnya.

"Sekarang kami juga mengembangkan konsep urban farming agar sesuai dengan zaman dan karakter generasi muda (peserta didik). Santri tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkannya di lapangan," ujar Ustadz Iman.

Ustadz Iman mengatakan bahwa setelah santri lulus dari pesantren, akan memiliki dua karakter, pertama adalah karakter wirausaha, dan yang kedua memiliki laboratorium kehidupan yang berkaitan dengan ilmu terapan. Sehingga 20 persen kurikulum di pesantren berbasis praktik wirausaha dan pertanian.

Mengenai kurikulum yang diterapkan di pesantren, Ustadz Iman menjelaskan bahwa sesuai dengan landasan kuat dalam ajaran Islam. Alquran banyak mengajak manusia memperhatikan pertumbuhan tanaman, turunnya hujan, hingga manfaat hewan ternak sebagai bentuk pembelajaran tentang pentingnya menjaga alam dan memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab.

"Ketika santri kembali ke tengah masyarakat, mereka tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui karya dan pemberdayaan ekonomi," katanya.

Dalam pandangan Pesantren Pertanian Darul Fallah, ketahanan pangan dimaknai sebagai berdikari pangan dan menjaga keberlangsungan kehidupan. Santri diajarkan menanam, merawat, memanen, hingga mengonsumsi hasil pertaniannya sendiri sehingga tercipta siklus kemandirian.

"Hasil pertanian tidak hanya memenuhi kebutuhan pesantren, tetapi juga memberi manfaat kepada masyarakat sekitar melalui berbagai komoditas pertanian dan peternakan," ujar Ustadz Iman.

Ustadz Iman juga menerangkan bahwa dalam perspektif Islam ketahanan pangan merupakan bagian dari Hifz al-Hayat yakni memelihara keberlangsungan kehidupan yang menjadi salah satu tujuan utama maqashid syariah. Jadi ketahanan pangan dapat dimaknaik sebagai upaya menjaga kesetabilan kehidupan baik kehidupan ekonomi, pangan dan sosial.

"Pangan merupakan kebutuhan primer. Ketika pangan terjaga, kehidupan ekonomi, sosial, dan keluarga juga akan semakin kuat. Karena itu menjaga ketahanan pangan adalah bagian dari menjaga kehidupan manusia kemudian menjaga keturunan manusia," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|