REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tiyo Ardianto. Siapa yang tidak kenal. Ia kini menjadi sosok "the rising star" dalam gerakan mahasiswa Indonesia saat ini. Sementara Dhana Baswara, belum banyak dikenal.
Namun ketika keduanya bertemu dan berdiskusi panjang di Solo, Sabtu (22/8), lahirlah gagasan strategis yang berpotensi mengubah paradigma berpikir generasi muda Indonesia.
Gagasan ini sekaligus bisa menjadikan duet Tiyo–Dhana sebagai "the next duo rising stars" yang siap menjadi bagian dari stok kepemimpinan nasional di era Indonesia Emas 2045.
Dhana Baswara, penguasaan kebijakan publik dari Universitas Sussex, Inggris, dan Tiyo Ardianto, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, sama-sama berada di rentang usia yang sejalan.
Begitu bertemu dalam diskusi tertutup di Solo, keduanya langsung menemukan keselarasan pemikiran atau kimia yang kuat.
Tiyo yang sedang menyelesaikan skripsinya banyak mengeksplorasi pengalaman Dhana selama menempuh pendidikan di Inggris.
Dhana menjelaskan bahwa salah satu hal menarik yang ia temukan di Inggris adalah bagaimana masyarakatnya, meskipun terbuka dan liberal, tetap teguh menjaga tradisi.
Tidak semua orang di Inggris menyukai anggota keluarga kerajaan, namun secara umum masyarakat sangat menghormati sistem monarki-parlementer yang demokratis sebagai bagian dari warisan budaya nasional.
Tiyo pun tertarik mendalami sistem sosial dan politik tersebut. Ia melihat bahwa Indonesia dan Inggris sama-sama negara kepulauan — karena itu, seharusnya Indonesia bisa belajar cara "berpikir kepulauan" seperti yang diterapkan di Inggris.
Dari sinilah keduanya merumuskan konsep "Archipelagic Thinking" atau berpikir kepulauan sebuah kerangka berpikir yang mensyaratkan pemahaman menyeluruh terhadap karakter negara kepulauan yang majemuk.
Konsep ini menuntut adanya kesadaran penuh atas keberagaman dan kekhasan setiap daerah dari pemerintah pusat, sehingga lahir kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, bukan seragam satu untuk semua.
Selama ini, menurut mereka, kebijakan pemerintah Indonesia cenderung bersifat "one size fits all" satu standar diterapkan ke seluruh negeri, mengabaikan keunikan dan kekayaan tiap daerah.
Untuk mensosialisasikan gagasan ini, Tiyo dan Dhana merancang roadshow nasional ke berbagai daerah di Indonesia. Mereka ingin bertemu dengan generasi milenial dan Generasi Z untuk menyerap aspirasi langsung dari anak muda mengenai masa depan Indonesia.
"Kita akan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kita ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka," ujar Tiyo, kepada media di Jakarta, Ahad (23/8/2026)
"Kita ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka," timpal Dhana.

7 hours ago
7

















































