Petugas menghitung uang dollar AS di tempat penukaran valuta asing.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp 17.387 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.424 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan rupiah menguat seiring fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid.
“Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan memiliki potensi untuk menguat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi sekitar 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang kuat,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurut dia, beberapa hari terakhir tekanan terhadap rupiah bersifat sementara, antara lain karena tingginya permintaan dolar untuk impor, pembayaran utang, repatriasi dividen, arus modal keluar, serta sikap hati-hati investor.
Dengan demikian, faktor domestik dinilai bukan sumber utama pelemahan, tetapi tetap berperan dalam memberikan tekanan terhadap rupiah.
Penguatan rupiah juga dibayangi kuatnya dolar AS akibat suku bunga global yang masih tinggi, kenaikan yield US Treasury sekitar 4,47 persen, serta ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong sentimen risk-off. Di sisi lain, lanjutnya, harga minyak yang tinggi juga meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor.
“Kombinasi ini membuat mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berada dalam tekanan,” ujar Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu ini juga bergerak menguat ke level Rp 17.405 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.425 per dolar AS.
sumber : Antara

1 hour ago
3

















































