Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026) melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp 17.667 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.654 per dolar AS. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi risalah Federal Open Market Committee (FOMC) April 2026 yang menunjukkan mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) memperingatkan potensi kenaikan suku bunga.
Sebelumnya, dalam rapat April 2026, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dana federal pada kisaran 3,5-3,75 persen.
“Mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2 persen mereka,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, risalah tersebut juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran pejabat The Fed terhadap tekanan inflasi yang dipicu perang Amerika Serikat dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump disebut menyatakan perang Iran berada pada tahap akhir. Namun, ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu aksi militer lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran sehingga membatasi optimisme pasar global.
sumber : ANTARA

5 hours ago
2















































