Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.875

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/3/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp16.875/US$ atau terapresiasi 0,03%. Hal ini membalikkan posisi rupiah yang terkoreksi pada perdagangan sebelumnya, Rabu (4/3/2026), saat rupiah ditutup melemah 0,18% di level Rp16.880/US$.

Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah bahkan sempat menguat 0,24% ke posisi Rp16.840/US$. Meski penguatan tersebut sempat tergerus di tengah perdagangan, rupiah tetap mampu bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih berada di zona penguatan, dengan kenaikan 0,23% ke level 98,993.

Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini tidak lepas dari dinamika eksternal, terutama dari pergerakan DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

Dolar AS menguat pada Kamis setelah sempat mundur dari level tertinggi tiga bulan. Ketegangan perang di Timur Tengah terus mengguncang pasar global dan menjaga sentimen tetap rapuh, sehingga menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Sebelumnya, reli tajam dolar sempat tertahan seiring harapan pasar bahwa konflik tidak akan berlangsung selama yang diperkirakan dan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali berjalan.

Namun, pasar tetap dibayangi ketidakpastian dari perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki hari keenam, setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya aliran dana masuk ke dolar AS, yang pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.

Dari dalam negeri, pasar juga sempat menyoroti keputusan lembaga pemeringkat global Fitch Ratings yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif pada Rabu (4/3/2026).

Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB, yang masih berada dalam kategori layak investasi.

Menanggapi hal itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa afirmasi rating Indonesia pada level BBB mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Adapun penyesuaian outlook tersebut dinilai tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian nasional.

"Prospek perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan. Kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global yang meningkat, inflasi yang tetap terkendali termasuk inflasi inti yang tetap rendah, serta nilai tukar Rupiah yang terus diperkuat melalui kebijakan stabilisasi nilai tukar di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri," ujar Perry dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (4/3/2026).

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|